Hola!
Jumat manis. Jumat manis.

Waoo mau curhat dikit yak. Akhir-akhir ini rasanya waktu 24 jam sehari jadi terasa amat kurang. Kalo bisa 48 jam dah sehari. Soale waktuku bener-bener tersedot di kantor. Cem macem kerjaan. Banyak event, jadwal siaran pun padat merayap. Ini aja masih belajar nyuri-nyuri waktu biar bisa tetap ngeblog. Ganbatte!

Keterangan Buku : 

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah 
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2012
ISBN : 978-979-22-7913-9
Tebal : 512 hlm. 



Dapatkan Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah di SCOOP

Blurb :

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, berharap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.

Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah.

Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.


Sekilas tentang Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah 



Tidak ada yang lebih indah dibanding masa muda. Ketika kau bisa berlari secepat yang kau mau, bisa merasakan perasaan sedalam yang kau inginkan, tanpa perlu khawatir jadi masalah. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 132)


Saat usia Borno baru 12, terjadilah malapetaka. Bapak disengat ubur-ubur. Tapi bagi Borno, malapetaka sebenarnya bukanlah perkara sengatan hewan beracun itu. Yang menyesakkan dadanya adalah saat bapak mendonorkan jantungnya bahkan sebelum beliau benar-benar meninggal. Borno tak tahu pasti, entah sengatan ubur-ubur atau pisau bedah dokter yang membuat bapak mati.

10 tahun kemudian, Borno sudah merasakan berpindah-pindah pekerjaan. dari mulai bekerja di pabrik karet, menjaga loket kapal feri hingga meneruskan profesi almarhum bapak, menjadi pengemudi sepit. Profesi yang menjadi pembuka pintu gerbang bagi kisah cinta Borno.

Suatu hari, gadis berbaju kurung kuning, mengembangkan payung merah, menaiki sepit yang dikemudikan Borno. Meninggalkan pesona, sekaligus surat bersampul merah. Surat yang Borno sangka sekedar angpau biasa. Surat yang baru Borno ketahui isinya sekian waktu kemudian.

Abang mau terima angpau juga?
Eh? Kau memanggilku?
Iya. Abang Borno, mau angpau?
(Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 95)

Borno tak tahu, apa yang membuatnya merasa terobsesi dengan si gadis berbaju kurung. Apakah karena dia ramah, akrab, tulus dan cantik. Ataukah kombinasi dari semuanya. Sialnya, seminggu berada dalam 1 sepit, Borno tak kunjung tahu nama gadis itu. Lebih sial lagi, saat nama sudah dikantongi, sang gadis beranjak meninggalkan Borno dan Sungai Kapuas, kembali ke Surabaya.

Cinta memang tak pernah mudah. Borno bahkan tak pernah menyangka bahwa gadis yang mencuri hatinya, adalah orang yang pula berkelindan dengannya di masa lalu.

Tidak ada yang mudah dalam cinta. Biarkan semua mengalir bagai Sungai Kapuas. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 278)


Kata Ketimpuk Buku tentang Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Dalam banyak urusan, kita terkadang sudah merasa selesai sebelum benar-bener berhenti. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 44)

Meski lumayan telat membaca novel sebagus ini di pertengahan 2016, tapi tak apa. 512 halaman yang aku santap di Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah mampu membuka pemahaman baru tentang cinta, cita-cita, hingga prinsip hidup seorang Borno (berasal dari kata Borneo. E-nya hilang karena orang-orang lebih mudah menyebut Borno).

Borno hidup di tengah keluarga nelayan tangguh. Karakter Borno ini istimewa, dia dikenal sebagai bujang yang memiliki hati paling lurus sepanjang Sungai Kapuas. Berpuluh kali diumpat, disuruh-suruh, diplonco oleh tokoh bernama Bang Togar, tak sekali pun Borno mengeluh atau marah. Hatinya tetap lurus. Hati lurus Borno ini membuat kisah cintanya dengan Mei, si gadis berpayung merah, terasa menggemaskan. Rusuh sendiri.

Tokoh Pak Tua yang bijak juga dihadirkan untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai cinta sejati dan pemahaman hidup yang baik. Sangat membantu tokoh utama untuk bertransformasi menjadi sosok yang makin baik seiring waktu. Tidak terkesan menggurui kok, justru karakter Pak Tua yang kadang usil, malah semakin memeriahkan cerita. Tentu saja untuk urusan memeriahkan cerita ini, tokoh Andi, sahabatnya Borno, juga punya peran tak kalah penting. Contohnya, bagian tentang bongkar membongkar vespa sama sekali nggak mudah buat dilupakan. :D

Setting cerita berlangsung di sekitaran Sungai Kapuas, yang merupakan sungai paling panjang dan luas di Kalimantan. Selain itu, cerita juga bergulir sejenak di Istana Kadariah. Lantas mampir di Surabaya sewaktu Borno menemani Pak Tua terapi asam urat di kota ini. Mengajak pembaca untuk plesiran di tempat-tempat menarik di kota Surabaya.

Lewat novel ini pula, aku jadi tahu seputar istilah-istilah yang akrab di kehidupan nelayan, seperti sepit (yang berasal dari kata speed), sebutan untuk perahu kayu yang bermesin tempel. Istilah semacam internal combustion engine, Guide for Internal Combustion Engine, mesin tempel, mesin penggerak, transmisi dan propeler tumpah ruah di beberapa bagian cerita.

Meski tema utama cerita ini adalah cerita cinta, lengkap dengan filosofi akan cinta sejati, Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, juga bercerita tentang pencarian jati diri. Tengoklah Borno, berkali-kali bergonta ganti pekerjaan, sampai pernah menjadi saksi langsung tindakan korupsi di kapal feri.

Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 42)

Sampai kemudian, saat Borno diajari menjadi montir di bengkel bapak Andi, Borno merasakan sesuatu yang lain. Saat berjibaku dengan peralatan bengkel, dia tak kepayahan sama sekali. Seakan-akan tanpa diajari pun, memperbaik motor dan mobil memang sudah menjadi kemampuan alaminya. Well, Borno mengajari kita untuk tak pantang menyerah sekaligus mensyukuri pekerjaan yang telah dimiliki. Melakukan yang terbaik, hingga kemudian berada di posisi terbaik.

Dan terakhir, meski sepintas lalu, sebagai angkasawati di salah satu RRI kabupaten, selingan tentang radio di warung pisang goreng di pinggir Sungai Kapuas yang me-relay siaran berita RRI di halaman 62 cukup membuat semringah. Aku membayangkan siaran RRI menjadi semacam backsound untuk kisah cinta Borno dan Mei. :)


Kutipan-kutipan favorit di Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Benci atau suka itu relatif. Lama-lama terbiasa, lama-lama jatuh cinta. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 25)


Kau bolak-balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika, wajah kau tak kusut lagi. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 59)

Kau tahu, orang yang paling bersyukur di dunia ini adalah orang yang selalu makan dengan tamunya. Sebaliknya, orang yang paling tidak tahu untung adalah yang selalu saja mengeluhkan makanan di hadapannya. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 121)

Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah hari-mu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 132)

Sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti itu? Boleh jadi tidak. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 133)

Dunia ini terus berputar. Perasaan bertunas, tumbuh mengakar, bahkan berkembang biak di tempat yang paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun. Perasaan-perasaan kadang dipaksa tumbuh di waktu dan orang yang salah. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 146)

Aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau benar-benar merasa ada sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 149)

Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap emnari meskipun musiknya telah lama berhenti. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 167)

Cinta sejati laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 168)

Di dunia ini, terkadang urusan yang dicari seringkali menjauh-jauh, urusan yang tidak dicari malah mendekat-dekat. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye :185)

Cinta sejati adalah perjalanan. Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 168)

Terkadang, dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 210)

Bagi bayi, sakit adalah tahapan naik kelas. Sakit sebelum bisa merangkak, sakit sebelum bisa berdiri, sakit sebelum bisa berjalan. Bagi kita yang jelas tidak mengulum jempol lagi, sakit adalah proses pengampunan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 250)

Sepanjang kau punya rencana, jangan pernah berkecil hati. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 282)

Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 288)

Jangan sekali-kali kau biarkan prasangka jelek, negatif, buruk, apalah namanya itu muncul di hati kau. Dalam urusan ini, selalulah berprasangka positif. Selalulah berharap yang terbaik. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 299)

Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan . (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 194)

Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 428)

Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 429)

Jika memang cinta sejati kau, mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus kalian lalui, dia tetap akan bersama kau kelak, suatu saat nanti. Langit selalu punya skenario terbaik. Saat itu belum terjadi, bersabarlah. Isi hari-hari dengan kesempatan baru. Lanjutkan hidup dengan segenap perasaan riang. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 430)

Boleh jadi ketika seseorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 479)

Seorang pekerja yang baik adalah ketika dia memberikan yang terbaik. Sukses akan datang dengan sendirinya. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 490)


Keterangan buku :

Judul : Dongeng Tentang Waktu
Penulis : Titi Sanaria
Ilustrator : Orkha Creative
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Amore
Tahun terbit : 2016
ISBN : 978-602-03-2956-7
Tebal : 336 hlm; 20 cm
Harga : Rp 58.400,-
(Seluruh royalti buku ini akan disumbangkan ke Rumah Baca Rebung Cendani)


Blurb :

Bram meninggalkanku saat upacara pernikahan kami sudah di depan mata. Begitu saja. Tanpa alasan jelas. Dan kuhabiskan ratusan hari hanya untuk berusaha melupakan laki-laki itu. Untunglah kesibukan sebagai dokter residen membantuku melangkah ke depan, apalagi kemudian aku bertemu Pram, pria yang membuatku tertarik. Aku berpikir, inilah saatnya aku melanjutkan hidup. 

Namun Bram tahu-tahu kembali, justru ketika aku mulai mengisi hari-hariku dengan Pram. Hatiku bimbang. Yang menyesakkan, di tengah kegalauan itu, sekali lagi aku ditinggalkan. Bukan hanya oleh Bram... atau Pram. Melainkan oleh keduanya.

Sungguh, sesulit itukah mendapatkan cinta sejati?



Sekilas tentang Dongeng Tentang Waktu


Aku di sini, di tempat kita selalu memandang laut bersama. Apakah kamu masih mengingatku? Karena aku sekarang teringat padamu. Merindumu meski tidak ingin. Tahu harus melepasmu tapi tak pernah cukup memiliki kerelaan. Aku di sini. Seperti pecundang yang menyeret kotak kenangannya ke mana-mana karena tak mampu membuangnya. Berusaha terlihat setegar karang tapi hatiku keropos di dalam. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 35)


Namanya Mia. Seorang dokter residen yang punya kisah asmara tak beruntung. Dia ditinggalkan saat pergelaran akbar dalam hidupnya tinggal 2 minggu lagi. Calon pengantin pria-kekasihnya selama hampir 4 tahun, Bram- membatalkan niatnya untuk menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidupnya.

Tak ayal, Mia butuh waktu lama untuk memulihkan diri. Kenangan tentang Bram terus menari di pelupuk mata. Andai Bram tak sebaik yang Mia kenal, tentu sulitnya tak begitu menyiksa. Namun yang lelaki terkasih itu tinggalkan sedemikian parah, rasa sakit hati dibumbui dengan pertanyaan ‘mengapa?’ tanpa henti. Sukses menahan Mia agar tak beranjak dari masa lalu.

Digoda Harso, si dokter bedah tampan, Mia tak bergeming. Menjalani kencan buta dengan Ridho, anak teman mamanya, Mia juga gagal mencari debar dan getar pada perasaan yang menunjukkan ketertarikan.

Namun ketika Radit, teman Mia sesama dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Pasarwajo di Sulawesi Tenggara ‘merepotkannya’ untuk menjemput seseorang bernama Pram, hati Mia terbuka. Meski berawal menyebalkan, ia harus mengakui rasa tertarik bisa jadi muncul pelan-pelan, pada sosok gigih yang selalu ada.

Sialnya, Bram kembali datang di saat Mia sudah memulai hari baru dengan Pram. Sialnya, hati Mia masih terpengaruh sedemikian hebat saat Bram datang. Dan yang paling sial, di tengah kebimbangannya, Mia ditinggalkan sekali lagi. Oleh Bram. Juga oleh Pram.


Kata Ketimpuk Buku tentang Dongeng Tentang Waktu

Aku di sini. Di tempat kita biasa menghabiskan sore berdua dengan ember berisi kerang di tangan sambil menanti matahari terbenam. Dan aku kembali teringat meski tak ingin. Apakah kamu juga kadang-kadang teringat? Hari ini aku bahkan tidak bisa menarik napas tanpa melihatmu bermain di kelopak mata. Bisakah kamu katakan bagaimana caramu melupakanku karena aku juga tak ingin tersiksa seperti ini? (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 41)


Dongeng Tentang Waktu adalah novel perdana kak Titi Sanaria. Namun jangan membayangkan sebuah cerita dengan keseruan patah-patah, novel ini justru sangat berhasil mengaduk perasaan. Manis, pahit, getir silih berganti. Membuat enggan menutup cerita sebelum tiba di halaman terakhir.

Ditinggalkan mantan pacar, lalu bertemu orang baru, lalu mantan pacar kembali lagi mengacaukan gegap gempita move on barangkali bukan buka tema baru dalam sebuah novel. Tapi lantas kemudian, bagaimana kalau si patah hati ini adalah dokter cantik? Bagaimana kalau setting novel ini berada di sebuah tempat cantik bernama Baubau, ibu kota kabupaten Buton? Bagaimana kalau dibalik kepergian Bram ada sebuah rahasia besar yang ia tutupi? Dan terakhir, bagaimana kalau ternyata pacar baru si Mia, Pramudya Murtopo, juga menyimpan rahasia yang demikian hebat?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dalam 329 halaman di Dongeng Tentang Waktu dengan begitu apik.

Cerita digerakkan oleh Mia sebagai tokoh utama. Kita akan jatuh cinta dengan sosok dokter muda ini. Tangguh sebagai dokter, kerap judes dengan para penggoda, namun sekaligus penuh drama saat tiba-tiba terkenang Bram. Energinya bisa tersedot habis, air matanya bisa seketika tumpah.


Sunset-nya masih seindah dulu. Masih matahari yang sama, di pantai yang sama. Yang berbeda hanya jarak ribuan hari yang memisahkan, dan suasana hati yang ikut menghitam seiring malam yang merambat datang. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 42)

Karena aku tak lagi memiliki sepasang lengan kokoh yang akan membebaskanmu dari segala macam ketakutan? Tak ada lagi dada yang bisa kubasahi dengan air mata saat suasana hatiku sedang buruk? Ketika kita tinggal sendiri, kurasa mekanisme pertahanan diri kita otomatis bangkit untuk melindungi diri sendiri dari dunia yang tidak ramah. Menjelma menjadi pribadi yang mandiri. Suka atau tidak. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 52)


Bram sendiri menjadi sosok yang dibenci sepanjang cerita. Mostly pembaca rasa-rasanya akan berkongsi dengan Mia. Karena jelaslah lelaki satu ini perusak cerita, pergi begitu saja, datang kembali kemudian mengacaukan Mia dan Pram. Tapi tunggu dulu, Bram punya rahasia besar kenapa ia melakukan itu.

Sedangkan Pram, aih, siapa tak suka dengan lelaki ini? Dijadikan selingkuhannya yang ke sekian pun, pasti banyak yang antri. Haha. Meski demikian, Pram juga kadang menyebalkan, seperti saat ia membuat Mia kesal karena terlalu terobsesi dengan kebersihan dan makanan sehat. Kadang celetukannya juga garing sih. Wajar kalau Mia sempat antipati dengan cowok ini.

Tokoh-tokoh lain yang mendukung cerita juga cukup banyak, ada Harso dan Radit, teman Mia yang membuat lucu cerita. Ada pulu 2 sahabat Mia, Asty dan Nina. 2 orang ini sukses memerankan peran sebagai sahabat yang menyebalkan. Kadang malah bak nenek sihir kurang kerjaan. Bagian-bagian cerita Mia dan sahabat-sahabatnya asyik disimak. Malah ada selipan bahasan seputar filosofi cinta dan tunjangan perceraian segala loh.


Kalau kamu sudah melewati masa pemujaan fisik, kamu akan cukup dewasa untuk menyadari bahwa memilih pasangan hanya berdasarkan hormon adalah tindakan paling bodoh, tidak masuk akal, dan egois. Banyak masalah yang bisa dipecahkan oleh uang dan tidak oleh cinta. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 123)


Karena profesi Mia sebagai dokter, di novel ini akan ada istilah-istilah kedokteran, semacam kwashiorkor. Juga ada bagian cerita seputar ikatan emosional antara dokter dan pasien. Bagian ini bikin sedih. Jangan lupa siapin tisu ya. :(


Dia seperti pelangi yang muncul setelah hujan. Senyumnya bisa mencerahkan suasana semendung apa pun. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 163)



Poin plus di Dongeng Tentang Waktu adalah penggambaran setting yang detail. Aku jadi penasaran setengah mati dengan Baubau, Bukit Kolema, Desa Lande. Penulis dengan lincahnya menggambarkan tempat-tempat ini bak surga tersembunyi. Indah luar biasa. Wajar lah ya Mia gagal move on-nya lamaaa banget. Perpaduan antara kenangan bareng mantan kekasih yang tanpa cela, dilatari alam yang demikian indah pula.

Aku selalu suka dengan konsep setelah patah hati dengan sepatah-patahnya, akan ada kesempatan untuk memiliki hati yang baru. Pesan moralnya kece, betapa kita kadang harus kehilangan dulu, untuk tau betapa beruntungnya kita saat sempat memiliki.

4,5 bintang untuk kisah Mia dan Bram yang masih menggetarkan jantung, juga kisah dengan Pram yang menghangatkan hati.


Kutipan-kutipan favorit di Dongeng Tentang Waktu


Saat Tuhan menentukan jodohmu, Dia tidak perlu bertanya lebih dulu padamu apakah pria itu tipemu atau bukan. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 85)
Jangan terlalu cepat menghakimi seseorang. Terkadang apa yang tertangkap mata tak lantas membuat kita tahu kenyataan sebenarnya. Kita cenderung membenarkan pesan yang disampaikan mata kita ke kepala. Pesan yang sering menyesatkan. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 92)

Teman tidak berpikir soal kerepotan dan kenyamanan jika membutuhkan sesuatu dari temannya. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 138)

Mengikhlaskannya adalah pilihan paling bijaksana yang dapat ku ambil. Bohong jika aku tidak sedih. Kehilangan itu bahkan terasa hingga ke sumsum tulang. Tapi kesedihan yang berkepanjangan tidak akan membuatnya kembali. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 160)

Orang harus berteriak saat harus berteriak, menangis saat ingin menangis. Bukan karena lemah tapi untuk merasa lega. Jangan bersembunyi di balik ketegaran padahal hatimu memborok di dalam. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 229)

Untuk mendapatkan kebahagiaan, terkadang kita memang harus mengorbankan perasaan orang lain. Itu manusiawi. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 239)



GIVEAWAY TIME!


Holaa! Udah mengharu biru pengen ikutan baper sama Mia? Pengen baca juga kisahnya secara komplit? Tenaaaang. Ketimpuk Buku ft Gramedia & kak Titi Sanaria mau ngebagiin 1 paket buku GRATIS buat Ketimpukers. Syaratnya gampang kok. :D


1. Punya alamat kirim hadiah di Indonesia *

2. Follow twitter @TSanaria *

3. Follow instagram Titi Sanaria **

4. Follow twitter @inokari_ **

5. Follow instagram @inokari_ **

6. Follow blog Ketimpuk Buku via GFC **

7. Share info giveaway ini di media sosialmu, sertakan cover buku Dongeng Tentang Waktu & hestek #KuisBuku #DongengTentangWaktu. Mention @TSanaria & @inokari_. *

Note :
*  = Persyaratan wajib
** = Persyaratan opsional. Boleh dilakukan, boleh tidak.




8.Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan format (nama, akun twitter, link share info giveaway dan jawaban)

Mia berkali-kali baper maksimal saat mengunjungi tempat-tempat yang mengingatkannya pada Bram, terutama pantai yang dulunya kerap ia kunjungi bersama lelaki terkasih itu. Nah, bagi Ketimpukers, tempat apa yang membuatmu mendadak kehilangan energi, baper, ingin menumpahkan air mata hingga lelah? Kasih alasannya juga ya. *curhat diizinkan *lol


Kalo mau poin tambahan, boleh twitpic tempat yang kamu maksud, mention @Tsanaria & @inokari_ plus hestek #DongengTentangWaktu. Gambarnya boleh dokumen pribadi, boleh juga pinjem dari google. Feel free. 

Giveaway ini berlangsung sejak blogpost ini tayang hingga 31 Juli 2016, pukul 24.00 WIB. Pemenang dipilih berdasarkan jawaban dan akan diumumkan pada tanggal 2 Agustus 2016 via blogpost di Ketimpuk Buku dan via media sosial empu Ketimpuk Buku. 

Good luck!




Pengumuman Pemenang

Selamat kepada

@reyzamzamy

Pemenang juga akan dihubungi via twitter. Hadiah berupa paket buku dari Gramedia akan dikirimkan seusai blogtour Dongeng Tentang Waktu berakhir. Terima kasih untuk partisipasinya, Ketimpukers.

Sampai jumpa di review, cerita tentang buku dan giveaway selanjutnya. Babay! :)

Keterangan Buku : 

Judul : Wheels and Heels 
Penulis : Irene Dyah Respati 
Editor : Pradita Seti Rahayu 
Penerbit : Elex Media Komputindo 
Tahun terbit : 2015 
ISBN : 978-602-02-75475 
Tebal : 310 hlm.  


Blurb : 

Pangeran memalsukan citra saat bertemu Cinderella di belantara
Cinderella memalsukan busana saat berdansa dengan Pangeran di istana
Dan toh, mereka bahagia selamanya


Abhilaasha tak bisa lepas dari gaun mewah, high heels, dan dunia gemerlapnya. Sedangkan, Aidan selalu lekat dengan kemeja aneh, serbakaku, dan dunia otomotifnya. Dan dunia berbeda itu mempertemukan Abby dan Aidan.

Mereka berperan, berpura-pura, beradu dalam rahasia. Ketika kejujuran ditunjukkan oleh masing-masing pemeran, apakah semua akan tetap sama?


Sekilas tentang Wheels and Heels 


Abhilaasha a.k.a Abby, seorang usher cantik yang punya tubuh molek ditambah kemampuan merayu yang luar biasa. Bertolak belakang dengan tampilan luarnya yang WOW banget, gaya hidup Abby amat terpaksa sederhana. Deket dengan ojek, angkutan umum, juga jajanan murah. Semua ini Abby lakukan demi penghematan. Katakanlah, ia menjadi semacam mesin ATM bagi keluarga.

Aidan Artalasmana a.k.a Aidan, si cakep yang punya badan bagus, tapi kaku dan buta mode. Hobi banget pake kemeja dan celana yang perpaduan warnanya aneh. Doi juga punya obsesi besar sama dunia otomotif.

Abby dan Aidan bertemu di pelatihan produk untuk motor show. Melihat Aidan yang terlihat begitu serius, kikuk juga pelit senyum, Abby pun iseng menggodanya. Godaan khas usher yang sukses membuat pipi Aidan memerah malu. Siapa sangka, takdir iseng mempertemukan Abby dan Aidan, lagi dan lagi. Bak alur film India, keduanya terhubung dengan aneh dan canggung. Saat debar-debar perasaan lain mengetuk pintu hati masing-masing, kejujuran menjadi jurang di antara mereka.

Apa yang akan mereka lakukan setelah ini? Membiarkan jurang semakin dalam? Atau mencoba membuat jembatan di atas jurang untuk meniadakan perbedaan?


Kata Ketimpuk Buku tentang Wheels and Heels 



Yay! Seneng banget karena Ketimpuk Buku kembali berkesempatan membaca karya kece seorang Irene Dyah, setelah beberapa waktu lalu jatuh cinta dengan Complicated Thing Called Love, Love in Marrakech dan Love in Blue City. 


Satu yang aku harapkan bisa didapatkan dari Wheels and Heels ini adalah : kocak campur baper. Khas Irene Dyah. Terus gimana? 
 
Well, jika dibandingkan dengan 3 novel yang aku baca sebelumnya, Wheels and Heels ini lebih terasa segar dan lincah. Engg .. dan nakal. Haha. Tapi bisa dibaca sama siapa aja sih, ga ada adegan yang aneh-aneh, meski kadang kelakuan Abby bikin kipas-kipas gerah. *lalu Aidan ngegilas Abby pake SUV :p

Karakter tokohnya dapet banget. Abby konsisten jadi penggoda, meski di beberapa bagian, cewek ini sungguh rapuh. Abby juga kocak. Pemikirannya suka aneh. Dan itu bisa pembaca nikmati dari penggalan status-status Abby di facebook. Kebanyakan dari status itu bikin ngakak. Sebagian lagi bikin mikir.

Aidan. Oh Aidan. Ada ga ya cowok macam begini di zaman sekarang? Polos banget! Pengen tak bawa pulang rasanya. Haha. Eh tapi si Aidan kadang nyebelin juga kok. Plus selera modenya itu paraaaah banget. Masa nih ya, waktu dia nemenin Abby nonton Jakarta Fashion Week, Aidan nyamain stud sama sepatu berpaku-paku? Terus ngira bulu-bulu sebagai upil, masa? *lol kuadrat :D


Interaksi Abby dan Aidan beneran bikin gemes. Aku ngakak-ngakak bodoh ngebayangin dudulnya mereka. Mostly dudul. Tapi ada juga yang sweeeet banget. Seperti waktu rumah Abby kebanjiran, lalu Aidan datang bawa kresek berisi bahan makanan. Aidan nekat nyemplung ke area banjir yang masih lumayan tinggi, demi Abby seorang. Uhhh. Meleleh ga?

Selain itu, profesi kedua tokoh utama di Wheels and Heels juga seru. Aidan yang tergila-gila dengan dunia otomotif, bakal ngajak pembaca terbengong-bengong dengan istilah-istilah otomotif yang super ribet. Abby aja sampe mengawinkan Toyota dengan Nissan, gara-gara ngobrol sama Aidan loh. Hoho. Di samping itu, profesi Abby juga ga kalah menarik. Usher. Yang dari zaman kapan tau, identik dengan cewek cantik tapi bodoh dan murahan. Apa betul? Coba deh kenalan dulu sama Abby.

Fokus cerita ga sebatas Abby dan Aidan aja, melainkan konflik kedua tokoh dengan keluarganya. Porsi masalah Abby terlihat lebih besar, meski bagian Aidan pun nggak bisa dibilang enteng. Dari awal, aku udah sebel sama kondisi keluarga Abby. Kok ya bisa-bisanya nyerahin semua masalah ke Abby. Tapi ya .. kita emang kadang cuma bisa melihat apa yang nampak oleh mata. Padahal sebenarnya bisa aja nggak seperti itu. Berbeda jauh malah.

Pesan moral banget, kadang kita mikirin kita aja yang capek padahal yang orang lain alami bisa jadi jauh lebih berat. Berhenti sekedar mikirin diri sendiri. Satu lagi, jangan pernah menjatuhkan penilaian sama orang lain hanya karena kulit luarnya. Seksi setengah mati bukan berarti nakal. Kaku dan norak sekali pun bukan berarti gembel. Wheels and Heels, menyuguhkan kisah cinta yang segar menggemaskan. Sekaligus menyajikan haru biru permasalahan keluarga.

Wajib baca! Aku rekomendasiin banget buat yang pengen diajak baper plus ngakak dalam waktu bersamaan. :D


Bonus kutipan favorit dari Wheels and Heels 











Assalamualaikum

Hola!

Selamat jumpa di giveaway Free Care Day edisi Juli 2016. Tak terasa ini sudah masuk edisi ke-4 ya.

Edisi 1 : buku bernuansa biru

Edisi 2 : romantika pernikahan

Edisi 3 : horor

Dan di edisi ke-4 ini temanya adalah seputar patah hati dan move on *uhuk temanya berat ya kak? Rentan baper. hoho




Ikuti juga

Giveaway Free Care Day


Well, bagiku sendiri tema patah hati dan move on ini selalu menjadi tema favorit yang selalu menarik untuk dilahap. Banyak sisi yang bisa digali. Banyak penyebab patah hati dan proses move on yang bisa dijadikan pembelajaran. Seperti cerita patah hati di novel yang akan aku bagikan di giveaway kali ini, Beautiful Mistake karya Sefryana Khairil dan Prisca Primasari.



Ada 2 cerita yang bisa dinikmati di Beautiful Mistake, yaitu Dreamland dan Chokoreto. Di Dreamland, pembaca diajak bertemu dengan Nadine Almaira Kamil a.k.a Nadine yang lagi patah hati berat karena ditinggal menikah oleh cowok yang sudah dia harapkan mati-matian selama kurun waktu 4 tahunan. Sialnya, Nadine malah bertemu dan jatuh cinta (lagi) dengan Fajar Ananta a.k.a Fajar, seorang bartender, yang juga tengah mengidap patah hati parah.

Ketika 2 orang yang sama-sama patah hati bertemu di suatu titik waktu, akankah cinta bisa menyapa sekali lagi?

Semua orang seharusnya punya harapan. Punya mimpi. Soalnya, saat nggak ada lagi yang bisa diperjuangkan, kita masih punya harapan kan? (Beautiful Mistake : 11)

Di Chokoreto, saatnya bertemu dengan Yuki Akihara, si penulis kaku yang punya trauma kepercayaan diri disebabkan kejadian di masa lalu. Ketika Yuki bertemu Akai Fukue, pianis berbakat yang malah bekerja di kafe minuman cokelat milik ayahnya, Yuki tahu, mereka bukan lagi bagai gula dan merica yang berbeda. Takdir mereka serupa.

Yuki dan Akai. Dua orang yang sama-sama kesulitan menggapai mimpi.

Aku tahu bagaimana rasanya mempunyai impian : kau tak bisa mencapainya sendirian, terutama bila kau tidak mempunyai motivasi untuk mewujudkannya. (Beautiful Mistake : 203)


Baca juga :


GIVEAWAY TIME!

Ketimpukers mau dapetin novel Bautiful Mistake karya Sefryana Khairil dan Prisca Primasari ini? Ikutan giveawaynya yuk. Caranya gampang! :D



1. Punya alamat kirim hadiah di Indonesia *



2. Follow twitter @inokari_ @princessashr, @afifahmazaya dan  @womomfey **


3. Follow blog Ketimpuk Buku via GFC **


4. Share info giveaway ini di media sosialmu, sertakan cover buku Beautiful Mistake & hestek #KuisBuku & #BautifulMistake. Lalu mention @inokari_. *



5. Jawab pertanyaannya berikut di kolom komentar dengan format :

Nama :
Akun twitter :
Link share info giveaway :
Jawaban :

 

Setiap orang rasa-rasanya pasti pernah patah hati, coba ceritakan secara singkat, patah hati terhebat yang pernah Ketimpukers alami.


Note :
*  adalah  persyaratan wajib
** adalah persyaratan opsional. Boleh dilakukan, boleh tidak.


Giveaway ini berlangsung sejak blogpost ini tayang hingga 21 Juli 2016, pukul 24.00 WIB. Pemenang akan diumumkan paling lambat 2 hari setelah penutupan giveaway, via blogpost di Ketimpuk Buku dan via media sosial empu Ketimpuk Buku. Oh iya, pemenang akan ditentukan secara random aka kocok arisan. Siapa pun bisa jadi pemenang. Yeay!

Good luck!




Pengumuman Pemenang


Selamat untuk ..

@Siti_Maisyaroh


Sila kirim data diri dan alamat lengkap ke intankamala@gmail.com ya. Jangan kapok buat ikutan giveaway di sini ya, Ketimpukers.
See you! :D