Keterangan buku :


Judul : Searching My Husband
Penulis : Octya Celline Penyunting, tata letak, desain sampul : Kudo
Penerbit : LovRinz Publishing
Tahun terbit : Oktober 2016 (cetakan pertama)
Tebal : x + 394 hlm; 14x20 cm
ISBN : 978-602-6330-25-3


Blurb :

MISSING PERSON

Dicari orang berinisial “R”, tak terlihat sejak satu tahun yang lalu, mulai 19 Oktober 2015.

Ciri-ciri fisik :

1. Pria tulen (saya yakin)
2. Tinggi badan sekitar 180 cm dan berumur 32 tahun.
3. Memiliki rambut yang berdiri alami dan terasa halus, sepertinya berwajah tampan, bibirnya tipis, memiliki lesung pipi, dan badannya berotot.
4. Menggunakan jas Armani dengan merek ternama.
5. Memiliki suara yang lembut dan berbadan wangi.

Bagi yang menemukan seseorang yang mirip atau terlihat seperti ciri-ciri di atas, tolong langsung hubungi:

No telepon : 19101996 (Sisilia)
Email : sisiliapricilia@gmail.com
Alamat : Jl. Cintaku Kepadanya No.19

*Keuntungan.

Jika menemukan pria tersebut:

-Diberikan uang cash dengan nominal besar
-Diberikan keuntungan khusus seperti jalan-jalan ke luar negeri selama 1 bulan

**Perhatian.

Entah karena alasan apa, pria tersebut tidak ingin wajahnya terlihat. Jadi jangan pernah menghubungi saya untuk menanyakan bagaimana wajah orang yang dicari karena tidak mengetahui wajahnyalah maka saya mencarinya.


--

Hai Ketimpukers. Seneng banget karena kali ini Ketimpuk Buku bisa menikmati karya seorang penulis muda berbakat, Octya Celline. Udah kenal? Penasaran dengan Searching My Husband? Sebelum baca reviewnya, yukk simak sesi ask authors singkat yang dilakukan oleh Ketimpuk Buku & Octya Celline.

--


Darimana ide awal penulisan Searching My Husband diperoleh?

Wah, rasanya saya saat itu berpikir kalau di ulang tahun ke 19 harus punya pacar baru, biar bisa move on dari mantan. Terus tiba-tiba iseng nulis cerita, saya juga tidak menyangka cerita iseng itu bisa disukai banyak orang. Bukan satu, bukan dua orang, tapi ribuan orang dalam sehari. Saya terkejut dan akhirnya cerita iseng itu terus mengalir.


Berapa lama proses penulisannya, Celline?
Saya menulis SMH di wattpad setiap syarat terpenuhi. Jadi sebenarnya waktunya tidak terhitung dengan baik. Hahaha. Tidak tahu jelasnya berapa lama. Yang pasti saya mulai menulis SMH tanggal 18 Oktober, sehari sebelum saya ulang tahun dan SMH selesai sudah dari berbulan-bulan yang lalu. Hehe


Kesulitan apa yang paling mengganggu saat proses penulisan SMH?

Kesulitan waktu menulis novel SMH adalah saya menulisnya dalam sekali duduk. Jadi saya update sesuai syarat votes dan comments di wattpad. Jika sudah kena deadline, saya harus selesai menulis hari itu juga. Jadi kadang, ketika pulang kuliah, masih capek, saya sudah harus nulis karena udah kena deadline. Akibatnya ceritanya jadi memiliki banyak PoV. Karena saya juga sudah lupa-lupa ingat dengan part sebelumnya. Itulah kesulitan yang paling besar saya rasakan, mengingat kembali cerita yang sudah seminggu atau sebulan saya tulis dan baru dilanjutkan saat deadline tiba.

Apa harapan Celline dengan hadirnya novel SMH?

Harapan saya dengan adanya novel SMH, banyak orang di luar sana menyukai seseorang tidak hanya dengan melihat fisik. Membuat banyak orang mengerti artinya setia dan ingin membuat orang-orang yang membaca karya saya ikut merasa bahagia dan tersenyum dengan alur cerita yang saya buat. --


Nah, itulah, hasil ngobrol-ngobrol singkat Ketimpuk Buku dengan Octya Celline. Bagi yang ingin mengenal Celline lebih dekat, bisa hubungi Celline di :

Instagram : @octyacelline
Facebook : Octya Celline
Wattpad : @OctyaCelline
Line : yoshikuni_tsubaki


Sekilas tentang Searching My Husband

People ask, why fallin in love is so hard? Because sometimes you fall and no one there to catch you. Sometimes you fall and they don’t have enough strength to hold you. And sometimes you fall, and the wrong person catches you. It’s just all about right time, in the right place, with the right person. (Searching My Husband – Octya Celline : 179)


Searching My Husband yang ditulis oleh Octya Celline berkisah tentang Sisilia yang menikah dalam keadaan koma dan menjalani kehidupan rumah tangga yang tak wajar. Dengan alasan yang entah apa, suaminya enggan menampakkan wajah. Bukannya Sisil tak berusaha mencari tahu, tapi memang tak ada celah untuk itu. Orangtua Sisil sudah meninggal, Sisil juga tak punya sanak saudara, bahkan pihak KUA pun merahasiakan identitas suami Sisil.

Yang membuat Sisil bertahan dalam hubungan aneh ini, tak lain karena suaminya mencukupi nafkah lahir batin. Meski yang Sisil punya hanyalah aktivitas bercinta dalam kegelapan, baginya, suami tanpa wajahnya adalah candu yang selalu ia tunggu.

Apa sebenarnya yang membuat sang suami enggan menampakkan wajah di hadapan Sisil? Akankah suatu saat kelak, sang suami bersedia membayar tuntas semua rasa penasaran dan rindu yang Sisil rasakan?


Kata Ketimpuk Buku tentang Searching My Husband

Sewaktu novel SMH tiba di kediamanku beberapa waktu lalu, aku sempat mbatin ‘wah novelnya tebal banget, kira-kira aku bisa jaga ritme baca hingga lembar terakhir nggak ya?’. Tapi ternyata, cukup sekedar baca prolognya, aku langsung dikuasai rasa penasaran dan sukses menamatkan SMH dalam sekali duduk. Gimana nggak, SMH ini mengambil tema yang unik dan sulit. Menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan seseorang yang tidak kita ketahui wajahnya plus memiliki segudang rahasia lainnya, sama sekali bukan perkara ringan. Syukurlah, semua fakta yang dihadirkan penulis terasa masuk akal dan aku bisa menikmati alur ceritanya dengan nyaman hingga tuntas.

Kita pasti berpikir, kok Sisil mau ya menjalani kehidupan rumah tangga yang aneh begitu? Hanya bertemu di kegelapan pula. Tapi sang suami punya trik jitu untuk memabukkan Sisil. Barangkali, terkadang wajah emang nggak begitu penting ya, namun rasa nyaman dan puaslah yang kemudian menghadirkan benih-benih cinta, dengan mengesampingkan hal lainnya. Lucu banget melihat usaha-usaha yang dilakukan Sisil untuk nyari tahu gimana rupa suaminya. Mulai dari nyiapin senter, lampu emergency, masang CCTV hingga masang iklan di koran. Nah, usaha yang terakhir ini beneran bikin ngakak. Alih-alih menemukan suami yang dia cari, Sisil malah didatangi orang gila, lelaki jadi-jadian sampe gigolo. Nyahhaaa! Sisil stres berat! *pukpuk

Tokoh-tokoh yang dihadirkan penulis di Searching My Husband juga lovable banget. Mulai dari Sisilia yang kalem tapi kadang pecicilan, Mr. R yang sepertinya gagah dan tampan (juga hot. Haha), Rio yang pintar dan baik hati, hingga Airin yang punya cara mencintai yang luar biasa. Awalnya aku kira tokoh Rio nggak lebih dari sekedar figuran, juga Airin. Tapi ternyata mereka punya keterkaitan erat dengan Sisilia & Mr. R. Penulis pandai banget ngejaga kepingan-kepingan rahasia biar pembaca tetap penasaran dan deg-degan hingga akhir. FYI, adegan di bioskop yang melibatkan Rio, Sisil & Mr.R asli bikin tawa berderai-derai. Salah satu bagian cerita favoritku! *lol

Aku yang awalnya khawatir akan menemui konflik yang berputar di situ-situ saja (mengingat novel ini lumayan tebal), nyatanya malah menyukai fokus cerita tentang Sisil dan suami di kegelapan. Gosh, sweet banget! Meski emang lumayan ‘bikin gerah’, tapi yaa .. nggak sampe bablas. Teteeep, yang belum 17 tahun jangan baca dulu yay! Takut gerahnya gerah banget. Hoho. Ikut kebawa gregetan juga sih. Rasanya pengen bantuin Sisil buat nyari tau gimana wajah suaminya. Emosinya dapet!

Overall aku menyukai dan menikmati 394 halaman yang ditawarkan Celline melalui My Searching Husband ini. Kalau pun ada yang sedikit mengganggu adalah pergantian PoV yang tiba-tiba terjadi (itu pun sudah aku ketahui alasannya di ask author di atas) dan beberapa typo yang barangkali di lain kesempatan bisa diminimalisir.

Nice novel dan aku menunggu karya seorang Octya Celline selanjutnya. :)


GIVEAWAY TIME! 




Ketimpukers mau dapetin novel Searching My Husband karya Octya Celline ini? Ikutan giveawaynya yuk. Caranya gampang! :D

1. Punya alamat kirim hadiah di Indonesia *

2. Berusia 17 tahun ke atas *

3. Follow instagram @octyacelline & @inokari_ **

4. Follow twitter @inokari_ **

5. Follow blog Ketimpuk Buku via GFC **

6. Share info giveaway ini di media sosialmu, sertakan cover buku Searching My Husband & hashtag #KuisBuku #SearchingMyHusband. Lalu mention @inokari_. *

7. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar, dengan format :

Nama :
Kota domisili :
Akun twitter :
Link share info giveaway :
Jawaban :

Menurutmu, saat jatuh cinta dan memutuskan untuk hidup berdua dengan kekasihmu, hal apa yang wajib kamu ketahui darinya? Wajahnya? Pekerjaannya? Status? Atau apa? *feel free untuk berpendapat

Note :
* adalah persyaratan wajib
** adalah persyaratan opsional.

Boleh dilakukan, boleh tidak. Giveaway ini berlangsung sejak blogpost ini tayang hingga 30 September 2016, pukul 24.00 WIB. Pemenang akan diumumkan paling lambat 2 hari setelah penutupan giveaway, via blogpost di Ketimpuk Buku dan via media sosial empu Ketimpuk Buku. Pemenang dipilih berdasarkan jawaban yang paling ‘nendang’.

Good luck!


Waktu bergulir. Meninggalkan 365 hari yang penuh dengan kebaperan melangit, galau yang menghentak-hentak tanpa lelah, dan energi-energi negatif yang menyertai dari titik mula hingga akhir. Kombinasi yang dulu pernah membuatku meragu antara ingin menyerah atau lanjut saja. Yang pernah membuatku hilang arah, tak tau harus melangkahkan kaki ke selatan atau utara.


Tapi orang bilang, badai akan usai. Cuaca baik akan datang. Menebus masa-masa kelam nan suram di hari kemarin. Dan sepertinya benar. Karena aku di sini sekarang. Baru saja menyelesaikan tugasku untuk memandu dialog interaktif bersama orang nomor 1 di kabupaten ini, bapak bupati. Setelah beberapa waktu sebelumnya, aku ditugaskan menjadi host di acara A, B hingga C. Pelan-pelan, aku mulai menikmati indahnya pelangi selepas hujan.


--


Aku pernah berada di posisi terburuk. Meninggalkan studio siar yang aku cintai dengan teramat. Meninggalkan kota berjuta kisah yang dengannya aku menikmati pahit manis cerita. Meninggalkan dia yang nyatanya tak mampu untuk sekedar berpisah kota yang sebenarnya bisa ditempuh dengan 6 jam saja. Aku kehilangan hal-hal manis yang sempat aku peluk erat dalam sekedip mata.


Lalu aku punya studio siar yang baru, tapi aku masih enggan melupakan yang lama. Aku tinggal di kota baru yang tak kalah punya pesona, tapi kota lama selalu terbayang atas setiap nafas yang dihela. Dan sekian banyak orang-orang baru berlintasan jalan denganku, namun hanya tentang dia yang abadi untuk aku sebut siang dan malam.

Hingga..

Selalu ada titik balik untuk setiap hati yang patah. Selalu ada obat mujarab untuk jiwa yang lelah. Selalu ada cerita baru usai menutup cerita lama.

Bukan mudah pada awalnya. Aku pernah menangisi malam-malam sepi yang mendadak aku miliki. Aku mengutuk hati yang babak belur menuntut disembuhkan sesegera mungkin. Aku membenci takdir yang berputar balik tanpa ampun. Menyisakan ketiadaan, selain luka yang berdarah-darah tanpa ampun.

Pelan-pelan, aku mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Berusaha menikmati hal-hal kecil yang aku punya. Meyakinkan hati bahwa takdir adalah perkara mutlak yang mustahil diganggu gugat. Menyadarkan diri bahwa ada hari esok yang harus ditapaki tanpa sambil mengusap air mata yang meleleh enggan berhenti.

Dan pada akhirnya, takdir bekerja dengan cinta.

Ini bukan perkara kau suka atau tidak. Toh saat menjatuhkan takdir, semesta tak harus bertanya dulu padamu apakah kau akan menyukai atau membenci kisah selanjutnya, bukan? Ini sekedar perkara penerimaan. Saat kau mampu menerima badai terhebat di hidupmu dengan hati lapang, takdirmu adalah untuk bersenang-senang dengan letupan cinta di setiap titiknya.

--

Seperti itu pula yang terjadi pada kisah Kidung Kinanti, teller cantik berusia 21 tahun, si tokoh utama di novel kece, Wedding Debt karya RatinatiF. Ia tak pernah menyangka jalan hidupnya akan sedemikian berputar arah. Dipaksa menikah oleh seorang pria asing bernama Prasasti Ambarawa, karena hutang ayah yang begitu besar jumlahnya. Hanya ada 2 pilihan yang Kinan punya. Setuju menikah dengan si artefak atau memilih menyaksikan ayah mendekam di penjara.


Tak hanya sampai di sana, Kinan yang begitu yakin tak akan ada bunga-bunga cinta bermekaran selain menikah untuk melunasi hutang, malah mulai meragukan dirinya sendiri. Terlebih saat dia tau bahwa Prasasti punya rahasia di masa lalu. Lengkap dengan sosok cantik bernama Clara yang seakan tak pernah rela jika Kinan bersisian dengan Prasasti.
GIVEAWAY TIME!


Mau baca Wedding Debt karya RatinatiF juga? Yuk ikutan giveawaynya! Ada 1 eks Wedding Debt untuk 1 Ketimpukers yang terpilih di giveaway kali ini.

1.Punya alamat kirim hadiah di Indonesia (wajib)

2.Follow twitter @RatinatiF, @KataDepan_ & @inokari_ (wajib)

3.Follow instagram @penerbitkatadepan & inokari_ (opsional)

4.Follow blog Ketimpuk Buku via GFC (opsional)

5.Share info giveaway ini di media sosialmu. Mention @RatinatiF, @KataDepan_ & @inokari_, sertakan hashtag #WeddingDebt #BagaimanaTakdirBekerja (wajib)

6.Tulis jawaban atas pertanyaan berikut di kolom komentar. Sertakan juga nama, kota tinggal, akun twitter/instagram dan link share info giveaway (wajib)

Ceritakan secara singkat, takdir terindah apa yang pernah kamu dapatkan selama perjalanan hidupmu?

7.Virtual Book Tour #WeddingDebt #BagaimanaTakdirBekerja ini berlangsung sejak blogpost ini tanyang hingga 13 September 2016, pukul 24.00 WIB. Dan pengumuman pemenang akan dilakukan 1 – 2 hari setelah berakhirnya periode book tour.

Good luck! 





Pengumuman Pemenang


Selamat untuk ..

@RaaChoco


Sila kirim data diri dan alamat lengkap ke intankamala@gmail.com ya. Jangan kapok buat ikutan giveaway di sini ya, Ketimpukers.

See you! :D

 



Keterangan buku : 


Judul : Beautiful Rendezvous
Penulis : Altami Nurmila D., Andi Facino, Eugenia Rakhma, Gilang Maulani, Hidya Nuralfi Mentari, Moh. Achor M., Rani Evadewi, Starin Sani
Penerbit : Stiletto Indie Book
Terbit : Cetakan 1, Juli 2016
ISBN : 978-602-7572-48-5 Tebal : 123 hlm.

Dijual secara online melalui situs www.StilettoBook.com

 


Life as a banker is never gonna that easy.

Terkungkung di dalam rapat-rapat yang menguras energi dan pikiran, target tahunan yang mencekik, kunjungan ke lokasi proyek debitur di daerah antah berantah, menghadapi nasabah kelolaan yang keinginannya dari A sampai Z, belum tuntas, cinta lokasi tiba-tiba datang melanda – padahal peraturan bank dengan tegas melarang pernikahan dengan sesama karyawan.

After everything we have been through, is it all worth fighting for?

Delapan cerita tentang dinamika asmara bankir. Yang manakah kisahmu?

--

Aku bukan banker, tapi pernah sepintas lalu menjalin kisah dengan banker. Temanku juga ada yang berpacaran cukup lama dengan salah satu banker di kota ini. Rasanya, permasalahan paling mencekik yang dihadapi saat merajut kisah dengan orang-orang sibuk ini, adalah waktu yang terasa begitu sempit. Belum lagi ditambah wajah kuyu saat apel di malam minggu, karena sepertinya pundak doi masih dibebani dengan setumpuk pekerjaan yang entah kapan bisa benar-benar selesai.

Itulah kenapa, aku tertarik banget buat melahap tuntas Beautiful Rendezvous karya 8 penulis kece ini. Penasaran setengah mati, apa yang sebenarnya dirasakan oleh para banker saat dihimpit tekanan pekerjaan yang luar biasa. Terlebih saat hati mereka dirasuki virus merah jambu.

Mari kita mulai .. 


Sometimes you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time – unknown


Sekilas tentang Beautiful Rendezvous

Judul kumpulan cerpen Beautiful Rendezvous diambil dari cerita yang diangkat oleh Altami Nurmila D. Cerpen ini juga menjadi cerpen pembuka. Berkisah tentang Judith Putri Permadi dan Erdo Satria Priyambodo. Sesama banker super sibuk yang ketemu di tempat tugas dengan cara yang kocak dan sama sekali nggak disengaja. Dibumbui dengan ide perjodohan yang unyu, cerita dari penulis mampu bikin terkekeh sekaligus gemes sama kelakuan dodol si Erdo. Ehem, Erdo ini tipe-tipe cowok yang gampang disukain. Tampan mempesona tapi kelakuannya kocak. Loved! Penasaran banget sama kelanjutan cerita Judith & Erdo!

Selanjutnya ada cerita Pria Penyihir oleh Andi Facino. Bercerita tentang Sigi Aemilia yang lagi didera patah hati karena pisah sama tunangnya, Keindra, yang insecure dan ga tahan sama hubungan jarak jauh. Pisahnya sih pisah serem, i mean, apanya yang nggak serem kalo pisahnya karena mimpi yang nggak bisa disatukan? Karena nggak ada yang mau mengalah demi bisa hidup bersama? Sampai kemudian ada sosok Bram Arya Ibraham, sosok baru yang sedikit nyuri hati Sigi. Sampeeee .. terkuaklah rahasia siapa si Bram ini sebenarnya. Wait wait, kamu udah cukup umur belum? Soale ada adegan agak ehem ehem di cerita yang ini *beburu keluarin KTP :D


Hidup seperti air yang mengalir, dari hulu ke hilir. Kadang yang dilewatinya datar, kadang curam, kadang berbatu agar sampai ke tempat yang tenang. Kita nggak bisa selamanya bahagia terus, karena kadang kita perlu sakit hati untuk belajar bersyukur, yang kita miliki lebih dari apa yang kita tangisi. (Beautiful Rendezvous : 25)

Terkadang kita terlalu menggampangkan urusan perasaan yang mudah patah dan rapuh ini dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. (Beautiful Rendezvous : 33)


Lain lagi dengan cerita yang ditawarkan oleh Gilang Maulani lewat ‘Lebih Besar Dibandingkan Bunga Bank’. Cerpen satu ini berkisah tentang Anyelir yang akrab disapa Anyeu. Muda, cantik, fashionable, pekerja keras dan galak. Di usianya yang baru 26 tahun, Anyeu sudah berhasil menjabat sebagai manajer umum di salah satu bank swasta di Bandung. Sialnya, Anyeu menjalin kasih dengan sesama banker, gaji dan jabatan si lelaki lebih rendah pula dibanding Anyeu. Apa yang harus Anyeu pilih? Karir atau cinta? Di sisi lain, keluarganya sudah mendesak agar dia lekas menikah dan menurunkan sedikit kadar gengsi yang ia punya.


Dalam beberapa hal, we have to realize that some people can stay in our heart but not in our live. (Beautiful Rendezvous : 37)

Sepatah hatinya seorang wanita, nggak mungkin dia menolak pria yang bersungguh-sungguh mencintainya, berusaha untuk membuatnya bahagia lagi. High risk, high return. (Beautiful Rendezvous : 39)

Kadang, kita harus mencoba mencari rasa manis dari rasa pahit itu sendiri. (Beautiful Rendezvous : 78)


Selain 3 cerpen di atas, masih ada 5 cerpen lain yang tak kalah ciamik. Ada Bang in Bank yang ditulis oleh Eugenia Rakhma. Prinsip 6C’s Analysis (Love) Credit oleh Hidya Nuralfi Mentari. Tertipu oleh Moh. Achor Mardliyan. Serta cerpen berjudl Amanah untuk Kinasih oleh Rani Evadewi dan Love in Batch milik Starin Sani. Rupa-rupa masalah banker benar-benar dikemas menjadi lembaran kisah yang sedap dibaca sekali duduk.


Kata Ketimpuk Buku tentang Beautiful Rendezvous

Puas-puas gemes baca 8 kisah para banker di Beautiful Rendezvous. Puas karena rasa-rasanya aku lebih bisa memahami bagaimana ritme cepat pekerjaan yang harus dilakoni oleh para banker. Cerita yang disajikan juga rupa-rupa, dari masa kekinian, hingga kisah dari masa lampau yang sukses menggelitik rasa penasaraan.

Selain itu, istilah-istilah di dunia perbankan dijelaskan dengan rapi di foot note, sangat membantu orang awam sepertiku untuk lebih dekat dengan dunia banker. Ada istilah On The Spot (OTS), which is berarti kunjungan ke lokasi usaha dalam rangka penelitian prospek usaha debitur, melihat kondisi jaminan, dan sebagainya bagi calon debitur yang akan diproses permohonan kreditnya atau dalam rangka monitoring kegiatan nasabah bagi debitur yang sedang memiliki fasilitas kredit bank. Ada juga istilah sindikasi : pinjaman atau kredit yang diberikan secara bersama oleh lebih dari satu bank kepada debitur tertentu. Dan masih banyak istilah-istilah keren lainnya.

Kekurangan buku ini? Hmm.. kurang tebal! Nyahahaa.. pengennya sih ke depan dibikin versi novelnya dari masing-masing cerita. Karena asli, semua cerpennya bagus-bagus, layak banget dikembangin lagi untuk menjadi sebuah novel utuh.

Ketimpuk Buku menyematkan 4 bintang untuk Beautiful Rendezvous. Yang pengen baca buku ini juga, sila melipir ke www.StilettoBook.com yay!
Hola!
Jumat manis. Jumat manis.

Waoo mau curhat dikit yak. Akhir-akhir ini rasanya waktu 24 jam sehari jadi terasa amat kurang. Kalo bisa 48 jam dah sehari. Soale waktuku bener-bener tersedot di kantor. Cem macem kerjaan. Banyak event, jadwal siaran pun padat merayap. Ini aja masih belajar nyuri-nyuri waktu biar bisa tetap ngeblog. Ganbatte!

Keterangan Buku : 

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah 
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2012
ISBN : 978-979-22-7913-9
Tebal : 512 hlm. 



Dapatkan Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah di SCOOP

Blurb :

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, berharap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.

Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah.

Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.


Sekilas tentang Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah 



Tidak ada yang lebih indah dibanding masa muda. Ketika kau bisa berlari secepat yang kau mau, bisa merasakan perasaan sedalam yang kau inginkan, tanpa perlu khawatir jadi masalah. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 132)


Saat usia Borno baru 12, terjadilah malapetaka. Bapak disengat ubur-ubur. Tapi bagi Borno, malapetaka sebenarnya bukanlah perkara sengatan hewan beracun itu. Yang menyesakkan dadanya adalah saat bapak mendonorkan jantungnya bahkan sebelum beliau benar-benar meninggal. Borno tak tahu pasti, entah sengatan ubur-ubur atau pisau bedah dokter yang membuat bapak mati.

10 tahun kemudian, Borno sudah merasakan berpindah-pindah pekerjaan. dari mulai bekerja di pabrik karet, menjaga loket kapal feri hingga meneruskan profesi almarhum bapak, menjadi pengemudi sepit. Profesi yang menjadi pembuka pintu gerbang bagi kisah cinta Borno.

Suatu hari, gadis berbaju kurung kuning, mengembangkan payung merah, menaiki sepit yang dikemudikan Borno. Meninggalkan pesona, sekaligus surat bersampul merah. Surat yang Borno sangka sekedar angpau biasa. Surat yang baru Borno ketahui isinya sekian waktu kemudian.

Abang mau terima angpau juga?
Eh? Kau memanggilku?
Iya. Abang Borno, mau angpau?
(Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 95)

Borno tak tahu, apa yang membuatnya merasa terobsesi dengan si gadis berbaju kurung. Apakah karena dia ramah, akrab, tulus dan cantik. Ataukah kombinasi dari semuanya. Sialnya, seminggu berada dalam 1 sepit, Borno tak kunjung tahu nama gadis itu. Lebih sial lagi, saat nama sudah dikantongi, sang gadis beranjak meninggalkan Borno dan Sungai Kapuas, kembali ke Surabaya.

Cinta memang tak pernah mudah. Borno bahkan tak pernah menyangka bahwa gadis yang mencuri hatinya, adalah orang yang pula berkelindan dengannya di masa lalu.

Tidak ada yang mudah dalam cinta. Biarkan semua mengalir bagai Sungai Kapuas. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 278)


Kata Ketimpuk Buku tentang Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Dalam banyak urusan, kita terkadang sudah merasa selesai sebelum benar-bener berhenti. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 44)

Meski lumayan telat membaca novel sebagus ini di pertengahan 2016, tapi tak apa. 512 halaman yang aku santap di Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah mampu membuka pemahaman baru tentang cinta, cita-cita, hingga prinsip hidup seorang Borno (berasal dari kata Borneo. E-nya hilang karena orang-orang lebih mudah menyebut Borno).

Borno hidup di tengah keluarga nelayan tangguh. Karakter Borno ini istimewa, dia dikenal sebagai bujang yang memiliki hati paling lurus sepanjang Sungai Kapuas. Berpuluh kali diumpat, disuruh-suruh, diplonco oleh tokoh bernama Bang Togar, tak sekali pun Borno mengeluh atau marah. Hatinya tetap lurus. Hati lurus Borno ini membuat kisah cintanya dengan Mei, si gadis berpayung merah, terasa menggemaskan. Rusuh sendiri.

Tokoh Pak Tua yang bijak juga dihadirkan untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai cinta sejati dan pemahaman hidup yang baik. Sangat membantu tokoh utama untuk bertransformasi menjadi sosok yang makin baik seiring waktu. Tidak terkesan menggurui kok, justru karakter Pak Tua yang kadang usil, malah semakin memeriahkan cerita. Tentu saja untuk urusan memeriahkan cerita ini, tokoh Andi, sahabatnya Borno, juga punya peran tak kalah penting. Contohnya, bagian tentang bongkar membongkar vespa sama sekali nggak mudah buat dilupakan. :D

Setting cerita berlangsung di sekitaran Sungai Kapuas, yang merupakan sungai paling panjang dan luas di Kalimantan. Selain itu, cerita juga bergulir sejenak di Istana Kadariah. Lantas mampir di Surabaya sewaktu Borno menemani Pak Tua terapi asam urat di kota ini. Mengajak pembaca untuk plesiran di tempat-tempat menarik di kota Surabaya.

Lewat novel ini pula, aku jadi tahu seputar istilah-istilah yang akrab di kehidupan nelayan, seperti sepit (yang berasal dari kata speed), sebutan untuk perahu kayu yang bermesin tempel. Istilah semacam internal combustion engine, Guide for Internal Combustion Engine, mesin tempel, mesin penggerak, transmisi dan propeler tumpah ruah di beberapa bagian cerita.

Meski tema utama cerita ini adalah cerita cinta, lengkap dengan filosofi akan cinta sejati, Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, juga bercerita tentang pencarian jati diri. Tengoklah Borno, berkali-kali bergonta ganti pekerjaan, sampai pernah menjadi saksi langsung tindakan korupsi di kapal feri.

Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 42)

Sampai kemudian, saat Borno diajari menjadi montir di bengkel bapak Andi, Borno merasakan sesuatu yang lain. Saat berjibaku dengan peralatan bengkel, dia tak kepayahan sama sekali. Seakan-akan tanpa diajari pun, memperbaik motor dan mobil memang sudah menjadi kemampuan alaminya. Well, Borno mengajari kita untuk tak pantang menyerah sekaligus mensyukuri pekerjaan yang telah dimiliki. Melakukan yang terbaik, hingga kemudian berada di posisi terbaik.

Dan terakhir, meski sepintas lalu, sebagai angkasawati di salah satu RRI kabupaten, selingan tentang radio di warung pisang goreng di pinggir Sungai Kapuas yang me-relay siaran berita RRI di halaman 62 cukup membuat semringah. Aku membayangkan siaran RRI menjadi semacam backsound untuk kisah cinta Borno dan Mei. :)


Kutipan-kutipan favorit di Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Benci atau suka itu relatif. Lama-lama terbiasa, lama-lama jatuh cinta. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 25)


Kau bolak-balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika, wajah kau tak kusut lagi. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 59)

Kau tahu, orang yang paling bersyukur di dunia ini adalah orang yang selalu makan dengan tamunya. Sebaliknya, orang yang paling tidak tahu untung adalah yang selalu saja mengeluhkan makanan di hadapannya. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 121)

Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah hari-mu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 132)

Sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti itu? Boleh jadi tidak. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 133)

Dunia ini terus berputar. Perasaan bertunas, tumbuh mengakar, bahkan berkembang biak di tempat yang paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun. Perasaan-perasaan kadang dipaksa tumbuh di waktu dan orang yang salah. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 146)

Aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau benar-benar merasa ada sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 149)

Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap emnari meskipun musiknya telah lama berhenti. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 167)

Cinta sejati laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 168)

Di dunia ini, terkadang urusan yang dicari seringkali menjauh-jauh, urusan yang tidak dicari malah mendekat-dekat. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye :185)

Cinta sejati adalah perjalanan. Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 168)

Terkadang, dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 210)

Bagi bayi, sakit adalah tahapan naik kelas. Sakit sebelum bisa merangkak, sakit sebelum bisa berdiri, sakit sebelum bisa berjalan. Bagi kita yang jelas tidak mengulum jempol lagi, sakit adalah proses pengampunan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 250)

Sepanjang kau punya rencana, jangan pernah berkecil hati. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 282)

Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 288)

Jangan sekali-kali kau biarkan prasangka jelek, negatif, buruk, apalah namanya itu muncul di hati kau. Dalam urusan ini, selalulah berprasangka positif. Selalulah berharap yang terbaik. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 299)

Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan . (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 194)

Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 428)

Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 429)

Jika memang cinta sejati kau, mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus kalian lalui, dia tetap akan bersama kau kelak, suatu saat nanti. Langit selalu punya skenario terbaik. Saat itu belum terjadi, bersabarlah. Isi hari-hari dengan kesempatan baru. Lanjutkan hidup dengan segenap perasaan riang. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 430)

Boleh jadi ketika seseorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 479)

Seorang pekerja yang baik adalah ketika dia memberikan yang terbaik. Sukses akan datang dengan sendirinya. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 490)


Keterangan buku :

Judul : Dongeng Tentang Waktu
Penulis : Titi Sanaria
Ilustrator : Orkha Creative
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Amore
Tahun terbit : 2016
ISBN : 978-602-03-2956-7
Tebal : 336 hlm; 20 cm
Harga : Rp 58.400,-
(Seluruh royalti buku ini akan disumbangkan ke Rumah Baca Rebung Cendani)


Blurb :

Bram meninggalkanku saat upacara pernikahan kami sudah di depan mata. Begitu saja. Tanpa alasan jelas. Dan kuhabiskan ratusan hari hanya untuk berusaha melupakan laki-laki itu. Untunglah kesibukan sebagai dokter residen membantuku melangkah ke depan, apalagi kemudian aku bertemu Pram, pria yang membuatku tertarik. Aku berpikir, inilah saatnya aku melanjutkan hidup. 

Namun Bram tahu-tahu kembali, justru ketika aku mulai mengisi hari-hariku dengan Pram. Hatiku bimbang. Yang menyesakkan, di tengah kegalauan itu, sekali lagi aku ditinggalkan. Bukan hanya oleh Bram... atau Pram. Melainkan oleh keduanya.

Sungguh, sesulit itukah mendapatkan cinta sejati?



Sekilas tentang Dongeng Tentang Waktu


Aku di sini, di tempat kita selalu memandang laut bersama. Apakah kamu masih mengingatku? Karena aku sekarang teringat padamu. Merindumu meski tidak ingin. Tahu harus melepasmu tapi tak pernah cukup memiliki kerelaan. Aku di sini. Seperti pecundang yang menyeret kotak kenangannya ke mana-mana karena tak mampu membuangnya. Berusaha terlihat setegar karang tapi hatiku keropos di dalam. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 35)


Namanya Mia. Seorang dokter residen yang punya kisah asmara tak beruntung. Dia ditinggalkan saat pergelaran akbar dalam hidupnya tinggal 2 minggu lagi. Calon pengantin pria-kekasihnya selama hampir 4 tahun, Bram- membatalkan niatnya untuk menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidupnya.

Tak ayal, Mia butuh waktu lama untuk memulihkan diri. Kenangan tentang Bram terus menari di pelupuk mata. Andai Bram tak sebaik yang Mia kenal, tentu sulitnya tak begitu menyiksa. Namun yang lelaki terkasih itu tinggalkan sedemikian parah, rasa sakit hati dibumbui dengan pertanyaan ‘mengapa?’ tanpa henti. Sukses menahan Mia agar tak beranjak dari masa lalu.

Digoda Harso, si dokter bedah tampan, Mia tak bergeming. Menjalani kencan buta dengan Ridho, anak teman mamanya, Mia juga gagal mencari debar dan getar pada perasaan yang menunjukkan ketertarikan.

Namun ketika Radit, teman Mia sesama dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Pasarwajo di Sulawesi Tenggara ‘merepotkannya’ untuk menjemput seseorang bernama Pram, hati Mia terbuka. Meski berawal menyebalkan, ia harus mengakui rasa tertarik bisa jadi muncul pelan-pelan, pada sosok gigih yang selalu ada.

Sialnya, Bram kembali datang di saat Mia sudah memulai hari baru dengan Pram. Sialnya, hati Mia masih terpengaruh sedemikian hebat saat Bram datang. Dan yang paling sial, di tengah kebimbangannya, Mia ditinggalkan sekali lagi. Oleh Bram. Juga oleh Pram.


Kata Ketimpuk Buku tentang Dongeng Tentang Waktu

Aku di sini. Di tempat kita biasa menghabiskan sore berdua dengan ember berisi kerang di tangan sambil menanti matahari terbenam. Dan aku kembali teringat meski tak ingin. Apakah kamu juga kadang-kadang teringat? Hari ini aku bahkan tidak bisa menarik napas tanpa melihatmu bermain di kelopak mata. Bisakah kamu katakan bagaimana caramu melupakanku karena aku juga tak ingin tersiksa seperti ini? (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 41)


Dongeng Tentang Waktu adalah novel perdana kak Titi Sanaria. Namun jangan membayangkan sebuah cerita dengan keseruan patah-patah, novel ini justru sangat berhasil mengaduk perasaan. Manis, pahit, getir silih berganti. Membuat enggan menutup cerita sebelum tiba di halaman terakhir.

Ditinggalkan mantan pacar, lalu bertemu orang baru, lalu mantan pacar kembali lagi mengacaukan gegap gempita move on barangkali bukan buka tema baru dalam sebuah novel. Tapi lantas kemudian, bagaimana kalau si patah hati ini adalah dokter cantik? Bagaimana kalau setting novel ini berada di sebuah tempat cantik bernama Baubau, ibu kota kabupaten Buton? Bagaimana kalau dibalik kepergian Bram ada sebuah rahasia besar yang ia tutupi? Dan terakhir, bagaimana kalau ternyata pacar baru si Mia, Pramudya Murtopo, juga menyimpan rahasia yang demikian hebat?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dalam 329 halaman di Dongeng Tentang Waktu dengan begitu apik.

Cerita digerakkan oleh Mia sebagai tokoh utama. Kita akan jatuh cinta dengan sosok dokter muda ini. Tangguh sebagai dokter, kerap judes dengan para penggoda, namun sekaligus penuh drama saat tiba-tiba terkenang Bram. Energinya bisa tersedot habis, air matanya bisa seketika tumpah.


Sunset-nya masih seindah dulu. Masih matahari yang sama, di pantai yang sama. Yang berbeda hanya jarak ribuan hari yang memisahkan, dan suasana hati yang ikut menghitam seiring malam yang merambat datang. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 42)

Karena aku tak lagi memiliki sepasang lengan kokoh yang akan membebaskanmu dari segala macam ketakutan? Tak ada lagi dada yang bisa kubasahi dengan air mata saat suasana hatiku sedang buruk? Ketika kita tinggal sendiri, kurasa mekanisme pertahanan diri kita otomatis bangkit untuk melindungi diri sendiri dari dunia yang tidak ramah. Menjelma menjadi pribadi yang mandiri. Suka atau tidak. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 52)


Bram sendiri menjadi sosok yang dibenci sepanjang cerita. Mostly pembaca rasa-rasanya akan berkongsi dengan Mia. Karena jelaslah lelaki satu ini perusak cerita, pergi begitu saja, datang kembali kemudian mengacaukan Mia dan Pram. Tapi tunggu dulu, Bram punya rahasia besar kenapa ia melakukan itu.

Sedangkan Pram, aih, siapa tak suka dengan lelaki ini? Dijadikan selingkuhannya yang ke sekian pun, pasti banyak yang antri. Haha. Meski demikian, Pram juga kadang menyebalkan, seperti saat ia membuat Mia kesal karena terlalu terobsesi dengan kebersihan dan makanan sehat. Kadang celetukannya juga garing sih. Wajar kalau Mia sempat antipati dengan cowok ini.

Tokoh-tokoh lain yang mendukung cerita juga cukup banyak, ada Harso dan Radit, teman Mia yang membuat lucu cerita. Ada pulu 2 sahabat Mia, Asty dan Nina. 2 orang ini sukses memerankan peran sebagai sahabat yang menyebalkan. Kadang malah bak nenek sihir kurang kerjaan. Bagian-bagian cerita Mia dan sahabat-sahabatnya asyik disimak. Malah ada selipan bahasan seputar filosofi cinta dan tunjangan perceraian segala loh.


Kalau kamu sudah melewati masa pemujaan fisik, kamu akan cukup dewasa untuk menyadari bahwa memilih pasangan hanya berdasarkan hormon adalah tindakan paling bodoh, tidak masuk akal, dan egois. Banyak masalah yang bisa dipecahkan oleh uang dan tidak oleh cinta. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 123)


Karena profesi Mia sebagai dokter, di novel ini akan ada istilah-istilah kedokteran, semacam kwashiorkor. Juga ada bagian cerita seputar ikatan emosional antara dokter dan pasien. Bagian ini bikin sedih. Jangan lupa siapin tisu ya. :(


Dia seperti pelangi yang muncul setelah hujan. Senyumnya bisa mencerahkan suasana semendung apa pun. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 163)



Poin plus di Dongeng Tentang Waktu adalah penggambaran setting yang detail. Aku jadi penasaran setengah mati dengan Baubau, Bukit Kolema, Desa Lande. Penulis dengan lincahnya menggambarkan tempat-tempat ini bak surga tersembunyi. Indah luar biasa. Wajar lah ya Mia gagal move on-nya lamaaa banget. Perpaduan antara kenangan bareng mantan kekasih yang tanpa cela, dilatari alam yang demikian indah pula.

Aku selalu suka dengan konsep setelah patah hati dengan sepatah-patahnya, akan ada kesempatan untuk memiliki hati yang baru. Pesan moralnya kece, betapa kita kadang harus kehilangan dulu, untuk tau betapa beruntungnya kita saat sempat memiliki.

4,5 bintang untuk kisah Mia dan Bram yang masih menggetarkan jantung, juga kisah dengan Pram yang menghangatkan hati.


Kutipan-kutipan favorit di Dongeng Tentang Waktu


Saat Tuhan menentukan jodohmu, Dia tidak perlu bertanya lebih dulu padamu apakah pria itu tipemu atau bukan. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 85)
Jangan terlalu cepat menghakimi seseorang. Terkadang apa yang tertangkap mata tak lantas membuat kita tahu kenyataan sebenarnya. Kita cenderung membenarkan pesan yang disampaikan mata kita ke kepala. Pesan yang sering menyesatkan. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 92)

Teman tidak berpikir soal kerepotan dan kenyamanan jika membutuhkan sesuatu dari temannya. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 138)

Mengikhlaskannya adalah pilihan paling bijaksana yang dapat ku ambil. Bohong jika aku tidak sedih. Kehilangan itu bahkan terasa hingga ke sumsum tulang. Tapi kesedihan yang berkepanjangan tidak akan membuatnya kembali. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 160)

Orang harus berteriak saat harus berteriak, menangis saat ingin menangis. Bukan karena lemah tapi untuk merasa lega. Jangan bersembunyi di balik ketegaran padahal hatimu memborok di dalam. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 229)

Untuk mendapatkan kebahagiaan, terkadang kita memang harus mengorbankan perasaan orang lain. Itu manusiawi. (Dongeng Tentang Waktu – Titi Sanaria : 239)



GIVEAWAY TIME!


Holaa! Udah mengharu biru pengen ikutan baper sama Mia? Pengen baca juga kisahnya secara komplit? Tenaaaang. Ketimpuk Buku ft Gramedia & kak Titi Sanaria mau ngebagiin 1 paket buku GRATIS buat Ketimpukers. Syaratnya gampang kok. :D


1. Punya alamat kirim hadiah di Indonesia *

2. Follow twitter @TSanaria *

3. Follow instagram Titi Sanaria **

4. Follow twitter @inokari_ **

5. Follow instagram @inokari_ **

6. Follow blog Ketimpuk Buku via GFC **

7. Share info giveaway ini di media sosialmu, sertakan cover buku Dongeng Tentang Waktu & hestek #KuisBuku #DongengTentangWaktu. Mention @TSanaria & @inokari_. *

Note :
*  = Persyaratan wajib
** = Persyaratan opsional. Boleh dilakukan, boleh tidak.




8.Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan format (nama, akun twitter, link share info giveaway dan jawaban)

Mia berkali-kali baper maksimal saat mengunjungi tempat-tempat yang mengingatkannya pada Bram, terutama pantai yang dulunya kerap ia kunjungi bersama lelaki terkasih itu. Nah, bagi Ketimpukers, tempat apa yang membuatmu mendadak kehilangan energi, baper, ingin menumpahkan air mata hingga lelah? Kasih alasannya juga ya. *curhat diizinkan *lol


Kalo mau poin tambahan, boleh twitpic tempat yang kamu maksud, mention @Tsanaria & @inokari_ plus hestek #DongengTentangWaktu. Gambarnya boleh dokumen pribadi, boleh juga pinjem dari google. Feel free. 

Giveaway ini berlangsung sejak blogpost ini tayang hingga 31 Juli 2016, pukul 24.00 WIB. Pemenang dipilih berdasarkan jawaban dan akan diumumkan pada tanggal 2 Agustus 2016 via blogpost di Ketimpuk Buku dan via media sosial empu Ketimpuk Buku. 

Good luck!




Pengumuman Pemenang

Selamat kepada

@reyzamzamy

Pemenang juga akan dihubungi via twitter. Hadiah berupa paket buku dari Gramedia akan dikirimkan seusai blogtour Dongeng Tentang Waktu berakhir. Terima kasih untuk partisipasinya, Ketimpukers.

Sampai jumpa di review, cerita tentang buku dan giveaway selanjutnya. Babay! :)