Review AWAITING YOU – Nadya Prayudhi



Keterangan Buku:

Judul : Awaiting You
Penulis : Nadya Prayudhi
Editor : Herlina P. Dewi
Proof Reader : Weka Swasti & Tikah Kumala
Desain Cover : Theresia Rosary
Layout Isi : Arya Zendi
Penerbit : Stiletto Book
Terbit : Juni 2015 (cetakan pertama)
ISBN : 978 – 602 – 7572 – 40 – 9
Jumlah Halaman : 257


Jika kita mencintai pekerjaan kita, maka kita tak perlu bekerja satu hari pun dalam hidup kita. (hlm 20)

Amora. Sang Chief Editor Fashionette adalah wanita mempesona. Cantik, cerdas, punya jiwa kompetitif yang tinggi, ambisius, mandiri dan punya karir bagus. Hidupnya sempurna. Punya suami yang memiliki segala sesuatu yang terasa serba pas. Lelaki itu bernama Sam. Ditambah 2 anak yang makin melengkapi semarak bahagia, Bilal dan Sabin.

Tapi seperti biasa, karir yang bagus selalu meminta tumbal. (hlm 19)

Karir Amora yang melejit di tempat kerja berpengaruh terhadap frekuensi pertemuan dan kedekatannya dengan anak-anak. Sebenarnya, Sam juga pernah meminta Amora untuk berhenti bekerja. Namun jawaban Amora adalah diam. Dia tentu tak mampu melepas karirnya yang gemilang. Dia cinta kerja. Sam pun tidak pernah lagi mengusik kecintaan Amora pada pekerjaannya.

Masalah datang saat usia pernikahan mereka belum lagi genap 8 tahun. Sam yang memutuskan menjadi pengusaha selepas resign dari perusahaan minyak, berpamitan pergi ke Tokyo untuk mengurus bisnis ekspor furnitur khas Bali. Amora yang mengantarkan Sam ke bandara, sempat melihat Sam mengenakan jaket yang ia berikan untuk menemani Sam di Tokyo. Sekilas ia melihat tangan Sam bergetar. Dia tau Sam gelisah, namun sama sekali tidak menganggap itu sebagai pertanda buruk. Amora menganggap Sam hanya sedikit cemas dengan usahanya.

Nyatanya setelah itu Sam tidak memberi kabar, tidak bisa ditanyai kabar. Sam tidak pulang hingga nyaris 11 bulan lamanya.

Selama itu pula kehidupan Amora memasuki fase hidup yang bergelombang. Didekati Lody, si berondong di kantor yang mau tidak mau sedikit mengusik debar-debar di hati Amora. Bukan semata-mata karena Lody rupawan, melainkan karena mata Lody mengingatkan Amora pada seseorang di masa lalu.

Gavin, sahabat Sam, juga mendadak memberikan perhatian di atas kadar normal. Ditambah pula dengan anak-anak yang bermasalah di sekolah. Oh, belum selesai, mantan tercinta di masa lalu pun mendadak hadir kembali.

Kemana sebenarnya perginya Sam?

Apa maksud uploadan foto di timeline akun facebook Sam?

Jika masih hidup, kenapa tidak mengabari Amora dan anak-anak? Kenapa Sam tidak kunjung pulang?

Di sisi lain, sanggupkah Amora kuat dalam penantian?

Jika iya, akan seperti apa penantian itu akan berujung?

Life is a funny thing. How much you enjoy it depands on how humorous you are. (hlm 227)

What a great novel!

Novel bertema penantian ini berhasil membuatku jatuh cinta dari lembar pertama hingga akhir. Penulis menyajikan cerita dari sudut pandang Amora yang sungguh lovable. Karakternya kuat, meski sesekali ada emosi kecil yang meletup, perasaan stress, juga perasaan yang salah, semuanya tetap terkontrol rapi. Wajar jika di kantor, dia dijuluki best boss ever oleh anak buahnya.

Bagian yang paling aku suka dari Amora adalah saat anak sulungnya, Bilal, bermasalah di sekolah. Awalnya aku tebak, Amora yang perfeksionis ini bakal meledak marah karena malu. Eh salah. Ketika Bilal sudah minta maaf dan menyesali kesalahannya, maka selesai. Dia tidak memperlakukan anaknya seperti pelaku tindakan kriminal.

Selain itu, saat suaminya menghilang, perhatian untuk Amora tumpah ruah. Tetapi wanita tangguh ini tetap mengikrarkan diri sebagai nyonya Sam. Waw. How lucky Sam ya punya Amora sebagai istri. Amora punya banyak pilihan, tapi tetap menjadikan Sam sebagai satu-satunya.

Alur maju mundur akan menghadirkan banyak kejutan di novel ini. Pembaca akan diajak berkenalan dengan Amora muda. Menyaksikan banyak hal yang luput dari perkiraan dari setiap adegan yang terjadi. Barangkali kadang kita kan mbatin, lah ternyata .. yak, aku pikir, loh kok.. yaahh ... Begitulah, silahkan menebak-nebak dan terkejut-kejut sendiri.   

Selipan ringan namun menghibur ada di adegan ketika Amora dan sekretarisnya, Finisya. Si Fini yang cantik ini ngebet banget pengen lancar bahasa inggris karena pengen kawin sama bule. Hihi. Meski grammernya berantakkan, tapi doi selalu berusaha ngomong dalam bahasa inggris loh. Pede dulu, bener belakangan. Wkwk. Nah, Amora yang bertugas ngebenerin grammernya. Mungkin terkesan sepele dan lucu, tapi buat aku pribadi selipan macam ini bermanfaat loh buat ngebenerin grammer di percakapan sehari-hari.

Di Awaiting You, aku nemuin istilah-istilah baru yang maksa buat buka google. seperti Dementia, Gibolan, Oedipus Complex, Botox, Vice Versa, Superstitious, Snob, Pendant, Delutional, etc. Lumayan banyak. Bisa dicari di google sih, tapi menurutku lebih keren lagi kalo ada catatan kaki yang menerangkan istilah-istilah tersebut.

Menyoal cover, kali ini silahkan judge this book, by it’s cover. Sama-sama manis. Warnanya juga pas, biru yang sendu. Pokoknya cocok ya sama isi ceritanya. Karena ada juga sih novel yang covernya cakep tapi ga sinkron sama isi cerita. Yang ini klop.

Ada beberapa kalimat inspiratif yang aku temukan di Awaiting You ..

Saat sedang susah, manusia seringkali bilang “why me?” padahal bisa saja Tuhan mengatakan “why not?” (hlm 95)

Sometimes good things fall apart, so better things can fall together. (hlm 192)

Kadang, apa yang sudah tidak bisa kita miliki, adalah yang terbaik bagi kita. (hlm 198)

Pesan moral yang aku dapatkan dari Awaiting You :

Kadang untuk mengenal seseorang –bahkan orang terdekat- tak cukup dengan waktu bertahun-tahun. Ada hal-hal yang barangkali disembunyikan karena satu atau banyak alasan. Yang harus dilakukan (menurutku) adalah meminimalisir pertengkaran dan memperbanyak komunikasi.

Then, ambisius itu memang boleh, harus malah. Tapi jangan sampai kita hanya berfokus pada satu lini kehidupan saja. Ada banyak hal yang menuntut keseimbangan.

Last but not the least, move on. Yap. Ada hal-hal yang terjadi di luar kendali. Kita juga tidak boleh terperangkap dalam perasaan duka yang berkepanjangan. The show must go on, right?

Recommended ya, guys. Menghibur, menginspirasi juga menguras perasaan. Asli, aku nangis loh baca ini. I can feel you, Amora. Aku harap penulis mau melanjutkan kisah manis ini dalam novel berikutnya.

Empat setengah dari lima bintang untuk kisah lovable Amora. :)



2 komentar:

  1. Kampret bener si Sam itu. Nggak bertanggung jawab banget. Lupa anak lupa istri. Ngilang berbulan-bulan tanpa kabar. Ehhh... tapi malah posting foto di facebook gitu.

    Mending kalau dia ngomong ke Amora bahwa dia nggak mau melanjutkan hubungan mereka. Kan kasihan si Amora, walaupun tertarik sama cowok-cowok yang deketin dia tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa. Karena takut dosa dan dia kenyataannya dia masih terikat hubungan sama Sam.

    Duh... kalo ada cowok tipe Sam disekitarku, udah aku bejek-bejek tuh orang. Jahat banget! Kurang ajar!

    Eh? Maaf... jadi emosi. Panggilan jiwa seorang perempian...

    Udah lama, sih, ngincer buku ini. Beberapa kali baca review dari beberapa orang. Tapi belum kebeli juga bukunya. Dan untuk kesekian kalinya, aku jadi semakin ingin beli ini. Oke, aku ke toko buku sekarang, deh.

    BalasHapus
  2. Di awal review saya pikir tokoh yang menjadi permasalahan disini adalah Amora dan suaminya adalah suami yang sabar karena quote yg disajikan pertama kali, namun saya salah besar. Ternyata setelah dibaca semakin kebawah, sosok sang suami lah yang menjadi masalah besar disini. Terima kasih kepada Intan yang mau menulis review novel ini. Jujur ini adalah review pertama yang saya baca mengenai novel ini dan Intan berhasil membuat saya penasaran akut dengan cerita lengkapnya. :)

    BalasHapus