REVIEW LARA – SYBILL AFFIAT



Keterangan Buku : 

Judul : Lara
Penulis : Sybill Affiat
Editor : Weka Sawasti
Proof Reader : Herlina P. Dewi
Desain Cover : Theresia Rosary
Layout Isi : Sindy Fatika
Penerbit : Stiletto Book
Terbit : April 2015
ISBN : 978 – 602 – 7572 – 38 – 6
Tebal : 233 halaman
Harga : Rp 38.400

Selama kamu berpikir dan meyakini bahwa suatu hal mungkin terjadi, maka gelombang pikiranmu bekerjasama dengan alam semesta.” (hlm 196)

Cerita diurai saat Larasati – Lara –menemukan dirinya terbangun di rumah sakit yang terasa dingin dan mencekam, tanpa busana. Ia ketakutan, berusaha keluar tapi pintu rumah sakit terkunci. Hingga ia pun menemukan lorong dalam lemari yang bisa digunakan untuk melarikan diri. Tak sengaja, Lara juga menemukan barang-barangnya – berupa pakaian, tas, handphone dan gelang emas putih dengan huruf L menghiasinya-.

Tiba-tiba Lara mendapati dirinya berada di ruang tamu keluarga, entah mengapa ia merasakan sepi yang luar biasa. Tiba-tiba kakaknya –mbak Saras- muncul dengan wajah putih pucat, rambut tergerai acak-acakan, dan membisu. Lara mencoba mengajak kakaknya bicara, namun tak ada jawaban.

Besoknya, ia mencoba mengajak ibu bicara, namun ibu juga membisu. Mbok Yam malah seperti ketakutan melihatnya. Lara mulai lelah dan merasa ada yang aneh pada dirinya. Sesampai di kampus, ia mencoba mengirimkan sms kepada sahabatnya, Dimas dan Faira, namun lagi-lagi tak ada balasan. Semua orang menganggapnya seolah tak ada. Lara merasakan kesepian yang mencekam.

Hingga ketika ia bisa berbicara kepada mbak Saras melalui mbok Yam sebagai perantara, ditambah kehadiran Rayan –kekasihnya- di depan pintu rumahnya dalam keadaan berdarah-darah, Lara sepertinya harus mau menerima suatu hal mengerikan. Sesuatu yang sekuat tenaga ia tolak kebenarannya.

Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Mengapa slide-slide masa lalunya bagai melintas dengan sangat cepat berulang kali?

Kenapa mbak Saras diam membisu dan menunjukkan gejala aneh lainnya?

Kenapa semuanya terasa janggal?

Roda kehidupan akan terus berputar, ada atau tanpa kita. (hlm 208)

Menamatkan Lara adalah prestasi besar untuk orang yang ‘mengaku benci’ genre horor sepertiku. Baru baca bagian awal sebenarnya sudah ketakutan setengah mati, tapi tetap lanjut hingga lembar terakhir karena penasaran yang menggila, mengalahkan rasa takut yang juga membuncah. Kak Sybill berhasil membawa aura dingin, mencekam, sunyi dan kepedihan dari awal cerita hingga akhir.

Seriously, aku jatuh kasihan melihat perjalanan kehidupan keluarga Lara. Keluarga yang dulunya bahagia sentosa tak kurang suatu apapun, mendadak runtuh saat ayah meninggal mendadak di meja makan. Ibu mereka yang tidak terbiasa mandiri, luar biasa frustasi dan membentengi diri dengan sikap dingin. Lara dan mbak Saras yang juga sedih luar biasa kehilangan ayah, seolah harus kehilangan ibu juga.

Ketidakadilan dalam hidup ini memang penting untuk keseimbangan hidup itu sendiri.” (hlm 60)

Berdua mereka melewati hari dengan melakukan hal-hal nakal. Main ke kelab tanpa tujuan. Menenggak alkohol. Bahkan Lara memacari Rayan, si pecandu narkoba. Hanya satu gemilang masa lalu yang berhasil Lara dan mbak Saras pertahankan : kecerdasan secara akademik. Buktinya, mbak Laras berhasil mendapatkan beasiswa ke Singapura, meninggalkan Lara di Indonesia dengan perasaan yang semakin kosong.

Kamu nggak bisa membanding-bandingkan hidupmu dengan kehidupan orang lain. (hlm 51)

Tidak semua yang terlihat bagus itu berarti bagus. (hlm 51)


Lara semakin dekat dengan Rayan, meski tetap berusaha untuk putus, karena ibu mati-matian meminta mereka berpisah. Namun hanya dengan Rayan lah Lara benar-benar merasa diinginkan, ibu hanya bisa memerintah, tanpa menaruh rasa sayangnya seperti saat ayah masih hidup.

Sedangkan mbak Saras bertemu dengan Ahmer di Sinagpura, pemuda yang berhasil menggetarkan hatinya. Namun semuanya belum mencapai titik kesempurnaan cinta. Masalah bermunculan, hingga Ahmer pun harus pergi dari Singapura, meninggalkan mbak Laras. Kamu bisa bayangkan ditinggalkan orang yang paling disayang kan? Pedih! :(

Titik balik kehidupan Lara dan kehidupan mereka semua terjadi saat mbak Saras pulang ke Indonesia. Sekalian, Lara memintanya menemani ke kelab, Lara berencana memutuskan Rayan, karena Rayan tak kunjung sembuh dari jeratan narkoba. Sayang, niat Lara luluh lantak dengan bantuan malam yang hangat dan alkohol. Alkohol yang juga membuat hidup ketiganya – Lara, mbak Saras, Rayan- berputar arah.  

Apakah manusia sama sekali tak bisa berubah? Atau aku memang hanya membutuhkan keberadaan seorang teman? (hlm 31)

Semestinya kamu sembuh untuk dirimu sendiri, bukan untuk aku. (hlm 75)

Omong-omong soal cover, covernya pas banget untuk isi cerita ini. Cantik tapi penuh luka. FYI, aku naksir baca Lara awalnya gara-gara lihat covernya loh. Bersyukur banget karena ga kecewa sama isinya. Pas!

Udah merinding disko sejak diajak ‘jalan-jalan’ sama Lara di awal cerita. Tapi ada beberapa bagian yang bener-bener bikin detak jantung aku ga beraturan. Seperti saat mbak Laras nongol dengan ‘mode silent’. Saat komputer ‘rusak’ dan memutar refrain lagu yang sama berulang-ulang. Apalagi pas ada adegan wajah nongol di layar komputer. Hiyaampun. Seram!

Jadi siklus baca aku : baca – ketakutan – tutup – penasaran sama kelanjutannya – buka – ketakutan – tutup lagi – penasaran lagi *begitu terus sampai baru sadar kalo hari udah malem dan lupa nutup jendela. Hiyaaaaaaaa!

Tapi kamu perlu tau, Ketimpukers. Menjelang ending rasa takut itu berubah jadi pedih sekaligus haru. Iya, aku nangis. Endingnya sama sekali ga ketebak. Duh, jadi baper.
Meski kental nuansa mencekam, novel ini tidak kelam. Malah memberi eberapa pesan moral ..

1. Pentingnya sinergi antar anggota keluarga. Jangan pernah ada satu pihak yang merasa lebih menderita dibanding pihak lainnya, karena hal itu hanya berujung pada makin renggangnya perasaan saling sayang, menimbulkan sikap antipati, dan luka.

2. Harus belajar mengikhlaskan. Suka nggak suka, kuat nggak kuat. Kuncinya adalah belajar ikhlas.

Untuk memperkuat keyakinan, kuncinya adalah ikhlas. (hlm 148)

3. JAUHI ALKOHOL. Minuman ini juga memporakporandakan hidup salah seorang teman yang begitu dekat denganku. Gara-gara minuman itu hidupnya bukan hanya berantakan seminggu, dua minggu, melainkan bertahun-tahun. Memperkeruh semuanya.

Nggak ada manfaatnya merasakan nikmat satu jam kalau harus menderita bertahun-tahun (atau bahkan seumur hidup) setelahnya kan?

4. Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, kita nggak tau batas waktu kita di dunia kapan, kan? Selesaikan yang harus diselesaikan, lakukan yang harus dilakukan.

Setiap kemungkinan selalu ada, meski dalam persentase yang kecil. (hlm 136)

4 dari 5 bintang untuk kekuatan pikiran yang mampu berkonspirasi dengan semesta. :)

2 komentar