Menjemput Bahagia Bersama ‘Passport to Happiness’ – Ollie



 

Keterangan buku :

Judul : Passport to Happiness (11 Kota 11 Cerita Mencari Cinta)
Penulis : Ollie
Editor : Resita Wahyu Febiratri & Nila Suri
Penyelaras aksara : Alaine Any
Penata letak : Putra Julianto
Desainer sampul : Mulya Printis
Penyelaras desain sampul : Agung Nugroho
Ilustrator isi : Oktarina Lukitasari
Penerbit : Gagasmedia
Tahun terbit : 2015 (cetakan pertama)
Tebal : xii + 176 hlm.
Ukuran : 13 x 19 cm
ISBN : 979 – 780 – 834 – 3

… bahwa hidup kita berubah setiap detik berdasarkan keputusan yang kita ambil saat ini. – hlm 14

Aku sepakat bahwa tak ada tempat yang paling nyaman selain rumah, kamar tepatnya. Bisa ‘melepas topeng’, menikmati lembar demi lembar novel kesayangan, ditemani sayup-sayup playlist mp3,beuuh,  rasanya surga.

Kenapa harus repot-repot keluar rumah saat bisa memeluk bahagia di kamar sendiri?


Tapi ternyata kamar tak melulu indah, bahagia juga tak mampu dikecap lewat hal-hal sederhana. Beberapa tahun lalu, aku sempat patah hati karena dikhianati. Pedihnya merusak selera baca, menghempas nikmatnya mendengarkan playlist mp3 yang selalu diupdate beberapa minggu sekali.

“Ntan, minggu depan UKM kita ngadain kegiatan sosial ke daerah Tanjung X. Rencananya 3 hari, 2 malam. Nanti kita bakal mengajar baca, tulis, hitung ke anak-anak di sana, sekaligus nganter langsung sumbangan berupa buku-buku dan peralatan sekolah lainnya. Kamu ikut kan?”

Aku nyaris saja spontan menggeleng. Ke daerah pedalaman, menginap entah di mana, mengajar baca, tulis, hitung ? Hah, aku nggak punya jiwa sosial setinggi itu. Mending nitip sumbangan aja ya kan?

Tapi sejurus kemudian aku ingat hari-hari muram yang aku lalui akibat patah hati sialan itu.

Ikut nggak?

Kalo ikut, ribet ih.

Kalo nggak, sedih doang dong di kamar. Huhu..

Akhirnya setelah menimbang cukup lama, aku menuruti kata hati untuk pergi.

Bukankah dalam beberapa kondisi yang melibatkan kegamangan hati, kita harus belajar untuk mendengar bisikan paling halus yang tak lain tak bukan berasal dari hati yang paling dalam?

Ternyata perjalanan singkat ini sama sekali tak mengecewakan. Malah memberi banyak kesan mendalam.

Aku memang tidur bernaungkan tenda, beralaskan tikar, makan kering tempe sebagai lauk, beberapa kali berkesempatan emas mengunyah telur dadar yang entah kenapa rasanya begitu nikmat, tapi aku membawa pulang perasaan riang yang meletup-letup halus. Langkah kakiku terasa ringan. Pedih di hati sepertinya sudah berlari.

Apa pasal?

Adakah yang lebih indah dibanding bisa menjadi kran secuil ilmu yang ternyata disambut dengan begitu antusias?

Adakah yang lebih menyenangkan selain melihat senyum-senyum lebar, binar-binar mata yang penuh harapan, serta semangat melonjak-lonjak yang dibawa anak-anak kecil di hadapan kami saat menerima bungkusan berisi buku, pensil, penghapus yang ala kadarnya?

Bahagia yang lebih dari bahagia ternyata hadir kala kita mampu menjadi sumber kebahagiaan orang lain. Rasa bahagia yang menjalar sampai ke dasar hati.  

Menjadi bahagia itu pilihan. Dan hanya kita yang bisa mengambil pilihan ini, dengan segala konsekuensinya. Pertanyaannya, apakah kita sudah siap untuk menjadi bahagia? –hlm 128


---


Beberapa orang sepertinya menjadikan travelling sebagai obat patah hati paling mujarab. Selain secuil kisah perjalanan menyenangkan versiku di atas, kak Ollie, penulis Passport to Happiness (11 Kota 11 Cerita Mencari Cinta) juga berbagi banyak cerita seru mengenai ‘perjalanan untuk menjemput kebahagiaan’.

Total ada 11 cerita yang sukses membuatku ingin melangkahkan kaki lebih jauh dari rumah. Betapa keindahan 11 kota yang digambarkan kak Ollie seakan memanggilku untuk secepatnya menikmati sunset di Jimbaran, lantas menikmati bebek Bengil di Ubud (Crossroads in Ubud – hlm 2).

Di Ubud, kak Ollie juga menyempatkan berkunjung ke museum Antonio Blanco. Museum yang dibangun Antonio Blanco, pelukis genius yang jatuh cinta kepada seorang wanita Bali sehingga memutuskan untuk tinggal di Ubud (hlm 10).

Tak hanya itu, kak Ollie juga bertemu Ketut Liyer, tokoh Medicine Man yang ditulis Elizabeth Gilbert dalam Eat, Pray, Love. Wah!

Lantas, apa yang kak Ollie dapatkan dari perjalanannya ke Ubud?

Ubud bisa memberimu jawaban. Apa pun pertanyaannya…, bagaimanapun bentuk jawabannya. – hlm 13

Well, barangkali di suatu hari kita kebingungan membuat keputusan. Antara tetap tinggal atau beranjak pergi. Antara tetap memelihara cinta, atau belajar melepaskan lantas mengeja ikhlas. Antara .. ah, bukankah di setiap hela nafas yang kita punya, senantiasa ada pilihan demi pilihan yang menyertai?

Barangkali kita bisa mendaratkan langkah kaki di Ubud, seperti yang kak Ollie lakukan.


---


Kak Ollie juga pernah menjejakkan kaki di Irlandia, tepatnya di kota Dublin. Salah satu tempat spesial yang kak Ollie kunjungi di sana adalah toko buku, bernama Books Upstairs. Deskripsi Books Upstairs yang kak Ollie hadirkan benar-benar membuatku menahan iri. Gilaa, apa rasanya bisa berada di toko buku sekeren itu?

Jendela etalase besarnya memperlihatkan buku-buku yang disusun rapi dengan suasana di dalam yang terlihat begitu hangat. – hlm 19

Hmm, tepatnya di seluruh kota yang ia datangi, kak Ollie menyempatkan mencari tempat cantik yang nyaman buat menikmati buku, toko buku dan perpustakaan. Aku sepertinya merasakan iri yang melonjak, merasakan ‘ingin’ yang lebih dari sekedar ‘ingin’.


---


Perjalanan kak Ollie di Moskow juga nggak kalah seru. ‘I’ve learned there are many ways to expressed love’, begitu katanya. Siapa sangka, dibalik semua bayangan menyeramkan tentang Rusia yang tertanam di otak bertahun-tahun, ternyata banyak hal-hal menarik yang bisa dijumpai di sana.

Hei, siapa sangka bahwa cowok Rusia adalah cowok paling romantis di dunia? Padahal mereka terkenal irit senyum loh? Hihii

Siapa menyangka, di sana lebih banyak jumlah toko bunga dibanding minimarket? Karena laki-laki di sana seakan berlomba untuk menyenangkan gadisnya.

Sekarang aku mengerti cinta versi kota Moskow : kebaikan dan kasih sayang yang diekspresikan dengan jelas, lugas, tanpa ragu. – hlm 42

Masih banyak lagi cerita yang kak Ollie hadirkan lewat Passport to happiness. Mengunjungi Buckingham Palace, belajar mencintai diri sendiri di Seoul, menikmati indahnya Paris, mencicipi segarnya secangkir teh di Marrakech, dan lainnya.

Di buku kak Ollie ini, aku jatuh cinta dengan banyak quote indah, seperti ..

…. bahwa kami sudah menjadi orang-orang paling beruntung di dunia karena saling mencinta, meskipun hanya sebentar saja. –hlm 65

Confidence is power. Dan menjadi cantik adalah salah satu jalan ke sana. Namun, at the end of the day, kenyamanan dan kebahagiaan ada pada saat kita bisa menjadi diri sendiri. – hlm 76

When you see your soulmate, you just knew. And when you knew, you don’t waste your time. – hlm 85

Hidup memang tidak bisa ditebak dan bukan untuk ditebak, tetapi untuk dialami dan dijalani. – hlm 94

Your partner is a reflection of you. Your strength, your insecurity, your sadness, your hope, all aummarized in those people you meet. – hlm 97

When I live my life to the fullest, I believe, I will effortlessly fulfill my purpose in life – hlm 140

We can’t judge nor pity other people just because we sin differently. – hlm 143

Pada satu titik, harta tidak akan ada artinya lagi. Yang dikenang adalah cerita dan hasil karya yang sudah kita tinggalkan di bumi. – hlm 146

Then it’s very human to think of other people’s opinion but not to be stuck by it. We should keep creating and keep shining. – hlm147

There’s no regret, no right or wrong. Nobody is forced to go or stay. We always have a choice to control our live. – hlm 150

Jadi, apakah kamu masih takut melangkahkan kaki dari rumah setelah membaca ceritaku dan mengintip kisah inspiratif kak Ollie?

Ayo siapkan passport kebahagiaanmu. :)

2 komentar:

  1. Keluar rumah aja sih gpp. Ke luar kotanya itu yang susah, apalagi ada balitanya. :D

    BalasHapus
  2. mau kemana intaaan...titi dijee hihihi...pengen banget bisa melanglang buana kayak ollie moga ada rejekinya aamiin, semoga menang yaaa intan

    BalasHapus