Review Bitter Winner – Mita Miranti (Seven Deadly Sins #4)



Keterangan Buku

Judul : Bitter Winner
Penulis : Mita Miranti
Editor : Prisca Primasari & Tesara Rafiantika
Proofreader : Idha Umamah
Penata letak : Erina Puspitasari
Penyelaras tata letak : Putra Julianto
Desain Cover : Jeffri Fernando
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015 (cetakan pertama)
ISBN : 979 – 780 – 804 – 1
Tebal : viii + 248 hlm
*Buntelan dari kak Mita Miranti dan kak Rizky M.


Blurb :

Di antara banyak harapan yang belum terjawab, kau salah satunya.

Namun aku setia menunggu tiada henti.

Lagi pula, siapa yang bisa melarikan diri dari patah hati?

Aku tidak akan pernah menyesal menjatuhkan hati kepadamu.

Juga tak akan pernah takut untuk kehilanganmu. Cinta tak akan pernah tersesat dan akan menentukan sendiri ke mana muara yang ia tuju.

Jika di ujung jalan bercabang ini aku tak menemukanmu, aku akan berbalik arah dan kembali mencarimu. Kembali menyusuri jalan setapak yang ku temui. Tak peduli berapa putaran telah aku lewati.

Berapa lama lagi aku akan menunggu?

Berapa banyak lagi luka yang akan kurasa?

Karena cinta adalah candu, luka tak akan masuk hitunganku.

Bukankah hanya cinta yang akan membuat hati utuh?

Terimakasih kak Mita :)

Apa untungnya cepat puas dengan sedikit bagian kalau kita bisa memiliki bagian yang lebih banyak? (Hlm 1)

Audrina. Pemilik mata indah bak mata boneka, bulat dan ditutupi sepasang bulu mata yang sangat lentik. Hari-harinya diliputi ketidakbahagiaan akibat kesalahan masa lalu papa dan mamanya. Ya, Audrina adalah korban perceraian.

Gadis ini tak dapat memilih untuk tinggal bersama siapa. Saat ia masih kecil, papa membawanya pergi. Jauh dan menghilang dari rumah lama mereka. Beberapa tahun kemudian, papa menghadiahinya ibu tiri yang jago memasak kue. Namun tak memiliki kelembutan sama sekali. Ditambah dengan sikap papa yang dingin dan berjarak, sudah cukup membuat hari-hari Audri bak di neraka.

Kalau kamu mau refreshing, pergi saja sendiri atau sama teman-teman kamu. Nanti biar papa yang bayar semuanya. (hlm 65)

Kenangan yang ia bawa dari masa kecil ialah selembar foto dirinya bersama mama dan adik kecilnya, Milana. Ditambah satu kata yang tak sengaja disebutkan papa, Makassar. Kota yang diyakini Audri sebagai kota masa kecilnya.

Audri sering berandai-andai, jika boleh memilih, tentulah ia akan memilih tinggal bersama mama. Mama yang cantik, baik dan lembut. Sangat bertolak belakang dengan ibu tirinya.
Semua tekanan hidup perlahan membentuk Audri menjadi gadis introvert. Hanya Bastian, satu-satunya lelaki sekaligus sahabat yang dimilikinya. Selain itu, Audri juga kerap berbohong, menambahkan variasi di sana sini dalam setiap ceritanya demi mendapatkan perhatian.

Batas antara kesedihan yang nyata dan palsu bisa jadi amatlah tipis. (Hlm 30)

Dengan sedikit basa-basi penuh keramahan, aku merasa sudah berhasil memegang kendali, merebut kembali apa pun yang tadinya kupikir hampir teralih dariku. (hlm 52)

Aku hanya mencoba membuat orang-orang lebih peduli kepadaku. (hlm 77)

Untunglah, Audri dikarunia kecerdasan di bidang akademik. Selain itu ia juga memiliki bakat dan keahlian khusus di bidang scrapbook. Bakat yang mengantarnya dapat bekerja sebagai pengajar di tempat kursus pembuatan scrapbook milik tante Rosa.

Scrapbooking isn’t about scraps of paper and photos. Scrapbooking is about scraps of life-yours and those special to you. – Rebecca Sower (hlm 25)

Saat menjadi juri perlombaan membuat scrapbook yang diadakan tempat kursus tersebut, Audri menemukan foto yang sama persis seperti miliknya. Pengirimnya adalah Andhita M. Meski Audri tak mengingat nama lengkap adiknya, namun ia yakin gadis itu adalah Milana. Ada alamat yang tertera pada foto tersebut, namun untuk terbang ke Makassar, jujur saja Audri masih perlu menimbang-nimbang.

Hingga, saat menemukan foto peninggalan tersebut tercabik-cabik dan Audri tentu tau siapa pelakunya. Keputusannya bulat. Berbekal uang tabungan dan kekacauan yang sengaja ia tinggalkan di rumah, Audri terbang ke Makassar.

Kau boleh saja menghinaku, tapi kau tak boleh menyentuh kenangan milikku yang paling berharga. (hlm 104)

Dan benar. Audri menemukan adik kecilnya berikut mama dan neneknya. Ia sangat berbahagia. Mendapatkan perhatian dan kasih sayang tulus untuknya adalah kebahagiaan dalam artian sebenarnya. Namun, saat fakta menyibak tabir sebenarnya bahwa sosok mama yang Audri anggap sempurna pun ternyata punya cela fatal, apa yang harus Audri lakukan?

Membenci mama?

Pulang menemui papa yang keras dan dingin?

Belum lagi perintah papanya agar Audri kuliah di jurusan Teknik Arsitektur. Jurusan yang tidak Audri suka. Ditambah beban mental menghadapi ibu tiri yang tak hanya jahat namun juga doyan selingkuh. Semuanya sukses membuat Audri gamang.

Semua orang pernah berbuat kesalahan. Tapi satu yang harus kamu ingat, kedua orangtuamu sangat sayang kepadamu. (hlm 209)

Meskipun kita tidak bisa memperbaiki masa lalu, kita bisa mempersiapkan masa depan kita dari sekarang. (hlm 230)

Bitter Winner adalah seri 7 deadly sins pertama yang aku baca. Kali ini dosa pemeran utama adalah lust atau nafsu. Di awal-awal cerita, Audri berhasil mendapatkan simpatiku. Betapa hidupnya sepi dan menyedihkan. Tapi semakin menyibak ke halaman berikutnya, ketidaksempurnaan Audri makin kentara.

Boleh jadi tampak luar ia terlihat tidak berdaya. Namun Audri tak akan segan-segan berbohong agar perhatian dan iba tercurah padanya. Ada adegan saat Audri berbohong pada Bastian saat pesta Prom. Juga saat Audri bersandiwara di depan bi Ima agar perempuan itu membelanya dan menganggap Bastian jahat. Belum lagi kebohongan-kebohongan lainnya yang Audri luncurkan. Penulis sukses mengaduk-aduk emosi dan membuatku membenci tokoh utama ini.

Konflik yang disajikan lewat curhat Audri ke pembaca maupun reaksi dari peristiwa-peristiwa yang ia alami, berjalan mulus. Tidak ada yang terasa janggal. Selain Audri, sosok ibu tiri juga sukses menjadi pemeran antagonis di Bitter Winner. Kebayang deh sosoknya kek nenek sihir, lengkap dengan suara nyaring yang menyebalkan. :p

Bagian favoritku adalah saat Audri berada di Makassar. Penulis menyelipkan informasi mengenai kota cantik ini dalam porsi pas. Baik itu dari segi bahasa, makanan khas maupun daerah wisatanya. Nambah ilmu sekaligus menggoda buat nabung biar someday bisa nyicipin es pisang ijo langsung dari daerah asalnya. :D

Mengenai judul, aku kurang paham, kenapa judulnya Bitter Winner, sedangkan dalam cerita, Audri nggak mengikuti kompetisi apa pun. Apa ini berkaitan dengan lomba scrapbook yang diikuti Milana, ya?

Oh ya, aku suka dengan pembatas novel ini, bentuknya unik. Selain itu, yang menambah poin plus, pada setiap awal bab penulis menyuguhkan quote-quote yang nggak cuma keren tapi juga relevan.

Overall, nggak nyesel baca Bitter Winner. Semua konflik bisa diselesaikan penulis dengan rapi. Jadi nggak ada pertanyaan mengganjal saat novel ini diselesaikan. Konflik yang terjadi pada Audri juga ngasih pelajaran penting. Betapa penting untuk belajar memaafkan dan menerima ketidaksempurnaan. Baik ketidaksempurnaan dari diri sendiri maupun orang lain.


Kau boleh menukar khayalan dengan realitas ataupun harapan dengan kenyataan kapan pun kau mau, meski pada akhirnya terasa semu. (Hlm 33)

4 bintang untuk metamorfosis nafsu yang membaik.

2 komentar:

  1. Beberapa kali ketemu novel ini. Aku cukup tertarik sama covernya, juga ratting di goodread yang lumayan. Tapi, aku ragu untuk membelinya.

    Saat membaca reviewnya, aku cukup bisa membayangkannya. Tapi, aku kok merasa novel ini menggunakan dosa pemeran utamanya adalah kebohongan, ya. Tapi, di review sudah ditulis kalau dosa pemeran utamanya si kepalsuan.
    Sepertinya - lagi, karena aku memang belum baca - novel ini mirip dengan Novel Beautiful Liar karyanya Dyah Rinni. Mbak Intan udah baca?

    Aku suka sama novel itu, karena intrik-intrik yang harus dipikirkan benar-benar oleh penulis. Membuat novel seperti ini pasti sulit. Lebih sulit dari bikin novel roman.

    Ini Resensi Novel Beautiful Liar yang aku buat >> http://dianputu26.blogspot.co.id/2015/07/resensi-beautiful-liar-karena-sekali.html

    BalasHapus
  2. Emang bner kata orang, kalo karakter seseorng itu ditentukan lingkungan. Lah wong hidup si Audri gak ada bahagia2nya gtu, gak salah lah dia jd pnya 'kelainan' atau sisi gelap yg kumaklumi. Belum tntu jg kl aku jd si Audri aku mash bs pnya kesabaran tingkat tinggi ngadepin ibu tiri yang sifatnya kaya setan. Yah emanglah hidup itu harus berjalan, pgn rasanya ngomong gni ke karakter Audri: "Dri, kl lu gak kuat sama kelakuan ibu tiri lu yg kejam, mending lu ke Jakarta sono. Dan rasain, kl Ibu kota itu lebih kejam daripada ibu tiri lu." hehehehee

    BalasHapus