REVIEW MISTERI TAMBANG MENGGERUNG – ERLITA PRATIWI




Keterangan buku :

Judul : Misteri Tambang Menggerung
Penulis : Erlita Pratiwi
Penyunting : Pradikha Bestari
Ilustrator : Indra Bayu
Perancang Sampul dan Isi : Indra Bayu
Penerbit : Kiddo
Tahun Terbit : 1, 2015
ISBN : 978-979-91-0914-9
Tebal : 144 halaman
Note : Buntelan dari kak Erlita Pratiwi


Dyffa diajak ibu liburan ke Buntok, kota kecil yang cantik di Kalimantan Tengah. Liburan sekaligus mengunjungi ayah yang bekerja di pertambangan batubara Buntok. Selama ini, Dyffa jarang bertemu ayah, hanya dua bulan sekali. Ibu dan Dyffa tetap tinggal di Jakarta, mengingat sekolah di Jakarta lebih bagus daripada di Buntok. 


Di sana, Dyffa tinggal di rumah dinas ayah. Di rumah itu tinggal juga om Danu, sepupu ayah. Ia baru diterima bekerja di perusahaan yang sama dengan ayah. Om Danu mengingatkan Dyffa untuk tidak bermain-main di sekitar tambang kapur.

“Tempat itu seram. Kata orang, tambang itu sering mengeluarkan suara menggerung.” Kata om Danu. (hlm. 11)

Sementara itu, Kay, teman Dyffa di Jakarta, memberi kabar bahwa di televisi ada berita penyelundupan kucing dari Buntok. Di liburannya yang luar biasa, Dyffa dihadiahi misteri tambang yang menggerung dan kucing hutan Buntok yang kemungkinan diselundupan.  
Bersama kedua teman barunya, Dian dan Jenta, Dyffa memulai petualangan. Dian, si gadis galak yang sedang belajar berubah. Dan Jenta, yang ternyata adalah orang Dayak. Ia punya penciuman dan pendengaran tajam.

Bertiga, mereka memberanikan diri memasuki tambang menggerung. Betapa kagetnya, saat mereka menemukan kandang hewan yang telah kosong, yang diyakini penciuman Jenta adalah kandang yang digunakan untuk menyembunyikan kucing hutan. Ada juga jejak sol sepatu yang berbeda antara bagian kiri dan kanan.

Dugaan mereka, penyelundup itu adalah dua bapak-bapak galak yang mereka temui di tepian sungai Barito. Salah satunya mengenakan topi dengan tulisan TAKE. Dugaan mereka hadir tanpa sengaja menguping pembicaraan bapak-bapak itu mengenai selundupan. Tapi, ternyata salah satu diantara bapak-bapak itu, pak Darmin, adalah teman om Danu. Dyffa ragu, benarkah om Danu terlibat penyelundupan kucing hutan?

Mereka lalu meminta bantuan pak Malis, si penyayang binatang, untuk menyelamatkan kucing hutan yang tersisa di tepian sungai Barito. Namun saat di Jetty, Dyffa menemukan fakta baru, bahwa ada salah satu dugaan penyelundup yang bekerjasama dengan pak Malis. Nah loh, jadi siapa nih penyelundup sebenarnya?

Pak Darmin dan Om Danu?

Atau ..

Pak Malis?

Lantas, darimana sebenarnya suara menggerung yang kerap terdengar di tambang?

Benarkah tambang itu angker?

Baca Misteri Tambang Menggerung dongs! Hehe :D

Lewat buku petualangan ini, pembaca akan diajak mengupgrade informasi. Baik itu melalui percakapan, maupun melalui ilustrasi yang menarik.

Ayah tergelak, “Felis Bengalensis. Nama latin kucing hutan.” Ayah menjelaskan. (hlm 10)

Informasi mengenai Buntok dikemas cantik. Dari info mini mengenai Buntok, bagaimana cara tiba ke sana, hingga motto daerah. Indonesia banget! Kapan ya kak Erlita datang ke Bengkulu? Soalnya di sini banyak juga tempat kece yang bisa jadi sumur ide buat kakak penulis kece ini. Ada benteng Marlborogh, Danau Dendam Tak Sudah, Pantai Panjang dan ada juga perayaan Tabot.


Ngiler pas tiba di bagian cerita mengenai Juhu singkah (umbut rotan) dan Juhu singkah enyuh (umbut kelapa). Di Bengkulu (tepatnya di Bengkulu Selatan) juga ada, dikenal dengan nama gulai umbut. Emang beneran sedap kok! Nggak heran kalo di Prancis sana ada umbut kelapa versi kemasan kaleng, harganya mahal. Beruntunglah yang masih di Indonesia, bisa makan umbut sepuasnya. hehe

Buku ini pokoknya kaya informasi dah. Salut buat penulis dan ilustratornya. Ada info mengenai kucing hutan, air hitam. batu kapur dan ada juga info seputaran bahasa. Di buntok sana, orang-orang lazim menambah akhiran –lah atau –kah pada tiap akhir kata, seperti

“Ah, tidak angkerlah.” Bantah Jenta. (hlm 27)

Wajah Dian berubah cerah, “Boleh jugalah usulmu itu. Nanti aku coba.” (hlm 31)

“Kenapakah kaget begitu?” Dian balik bertanya.

Pesan moral buku ini:

Jangan terlalu mudah menyimpulkan, tanpa tahu benar duduk perkaranya. Mendengar informasi yang sepotong-sepotong bisa membuat kita menyimpulkan sesuatu yang salah, juga mencurigai orang yang tak tepat.

Miris, orang-orang melihara kucing hutan HANYA demi gengsi. Duh aduh. Padahal di saat yang sama ada yang ngos-ngosan ngebanting gengsi demi menuhin tuntutan perut yang nggak bisa ditunda. Lagipula, kucing hutan bukanlah hewan peliharaan yang senang dielus dan digendong. Kebayang kan betapa tersiksa mereka kalo dikurung dalam kandang? *pukpukFelis

3 komentar:

  1. Boleh juga nih bukunya ya, wah ternyata penikmat buku juga toh neng. ^.^

    BalasHapus
  2. Petualangannya sepertinya seru, apalagi kalau ada banyak informasi tentang suatu daerah di Indonesia & hewan yg dilindungi.
    Ini untuk range usia SD kah, Intan?
    Sepertinya bagus untuk direkomendasikan sebagai bacaan sebelum mulai pelajaran ya?
    Suka reviewnya, jadi pengen beli buat anak-anak nih.

    BalasHapus
  3. Garis keturunan keluarga dari pihak Papa berasal dari Kalimantan, tepatnya di Sambas, Kalbar. Jadi, saya selalu excited bila ada cerita ber-setting Pulau Borneo. Apalagi, ini buku anak. Genre yang sedang saya selami lebih dalam ;)

    Btw, review yang buku ini berhasil membuat saya kepincut, Tan. Deretan kata di baris akhir makin bikin penasaran. Antara sosok tiga pria yang bersinggungan dengan misteri. Karena baca review ini pula saya harus buka KBBI offline. :D Sempat salah cari pula. Mengerung dan Erung. Eh, kok, kedua kata itu nggak ada di kamus, ya. Ternyata eh ternyata, menggerung ;) yang artinya menangis keras-keras. Sstt, saya udah tiga kali ikutan GA buat dapetin buku ini, tapi belum rezeki. Hehehe.

    Untuk reviewnya yang oke, saya kasih empat jempol. Serasa lagi lihat film Misteri Tambang Menggerung nih. Saya sedang belajar membuat novel anak. Buku anak yang sarat pesan dan pengetahuan, menurut saya, bisa ditulis oleh penulis cerdas yang rajin riset. Kak Erlita keren bisa nulis buku sekeren ini. :) Makin sukses, ya, Kak Erlita.

    OOT dikit, ya, Tan. Biasanya, saya buka ketimpukbuku dari hape, jadi si cantik nggak kelihatan :D Karena ikutan GA ini saya jadi ikutan pasang widget blog emoticon juga. Hihihi. Ternyata blogspot juga bisa, ya. Kiraiin wordpress aje. Horeee! ;)

    Sukses terus, Tan. Banyak ilmu baru karena ikutan GA ketimpuk buku. Termasuk buat review buku seru yang no spoiler ^_^

    BalasHapus