REVIEW SECANGKIR KOPI BULLY – PARESMA ELVIGRO




Keterangan Buku :

Judul : Secangkir Kopi Bully
Penulis : Paresma Elvigro
Editor : N. Luky Andari
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2014
ISBN : 978 – 602 – 02 – 4998 – 8
Tebal : 175 halaman
Note : Buntelan dari kak Paresma

Blurb:

Secangkir kopi adalah minuman yang belakangan ini dicintai oleh banyak kalangan. Tapi, apa yang membuat kopi benar-benar nikmat diteguk? Karena ada tambahan gula. Padahal sejatinya, kopi itu pahit. Bagi seseorang yang tak menyukainya, tentu tak akan pernah mau meminumnya, pun jika ditambahkan sesendok pemanis.


Seperti itulah bullying. Banyak kini yang menggandrunginya, sengaja atau tak sengaja. Para pelaku menyenangi perbuatan kekerasannya. Perlahan makin impulsif, ketagihan mem-bully layaknya seseorang yang kecanduan minum kopi terus-menerus. Tapi, tak sadar bahwa efek kafeinnya akan meracuni hidup pelaku maupun sang korban. Bullying adalah pengalaman getir. Bentuknya bermacam-macam dan sangat mudah dilakukan. Tapi, efeknya sungguh luar biasa mematikan. Kadang, bullying itu bisa berwujud manis dan halus sehingga korban tak sadar dibuatnya. Bahkan, banyak dari para korban bullying yang memutuskan bunuh diri karena tak tahan dengan seluruh lebam fisik, batin serta psikis yang diderita. Jika sudah begini, apa yang harus dilakukan?

Dan, buku ini hadir untuk menjawab pertanyaan tersebut. Penulis sengaja menoreh ulang memoar/sejarah kelamnya selama di-bully, sepanjang masa sekolah (dari TK hingga SMA). Bukan untuk mereguk simpati dari orang lain, melainkan sebagai bentuk berbagi pengetahuan, perhatian serta kasih sayang terhadap para korban dan pelaku bullying.
 

Jadi, bullying dalam makna harfiah itu berarti menggertak dan mengganggu orang yang lebih lemah. (hlm 3)

Banyak cara seseorang dalam mengekspresikan tindakan bullying-nya. Bisa dalam tindakan fisik, contohnya memukul, menendang, meninju, mencakar maupun merusak barang-barang milik korban. Bisa pula mem-bullyng dengan tindakan non fisik yang terbagi dua, yakni secara herbal maupun non-herbal.

Secara verbal bisa berupa mengancam, memeras, berkata-kata keji dan memanggil-manggil dengan sebutan meledek, dan lainnya. Sedangkan secara non verbal bisa berupa mengancam dengan tatapan mata, mengucilkan seseorang dari pergaulan, mengirimkan pesan penghasut, dan lainnya.

Di-bully emang nggak enak, bahkan jika tingkatannya sudah parah bisa “mematikan” pelaku dan menghancurkan kehidupan korban. (hlm 3)

Membaca buku ini memaksaku untuk terlempar jauh pada masa sekolah. SD, SMP, SMA. Masa-masa dimana aku dan teman-teman segenk adalah kelompok pem-bully berbahaya.
SD. Ada seorang siswi introvert yang jadi bulan-bulanan kami. Nggak ada yang salah sebenernya. Secara fisik, dia nggak masuk kategori jelek. Kemampuan akademiknya pun lumayan, masih masuk 10 besar. Tapi bibirnya yang lebih sering terkunci, juga sikap diamnya yang dingin, sukses membuat kami gemas. Akhirnya berbagai panggilan hina, juga gumpalan kertas, pena, penghapus, sering kali mendarat padanya. Tiap kali melakukannya kami tertawa puas, apalagi saat melihatnya menangis. Kami baru berhenti saat .. dia tidak masuk sekolah karena tangannya tersilet seusai melakukan tindakan uji coba bunuh diri. Rabb.. betapa bersalahnya kami.

SMP dan SMA pun aku lagi dan lagi bergabung bersama genk populer. Tujuannya sih biar aman di sekolah. Ada yang ngajakin ribut, tinggal ajak genk buat nyerbu. Di kelas pun kami sering semena-mena, ribut sesuka hati, berbuat usil ke anak-anak introvert (lagi).

Aku baru tau bahwa ternyata tindakan bullying bukan hanya berdampak bagi korban tapi juga bagi pelaku.

Bagi korban :

Dapat membuat remaja merasa ketakutan dan cemas, dapat mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah. Dalam tingkat lanjut bisa mempengaruhi self-esteem si korban, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan perilaku withdrawal, rentan terhadap stres dan depresi. Lebih parah lagi, bullying juga mampu membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri apabila sudah tak tahan dengan situasi yang dialaminya.

Bagi pelaku :

Pada umumnya pelaku bullying cenderung memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi, cenderung bersikap pro terhadap kekerasan, tipikal berwatak keras, impulsif, dan mudah marah serta toleransi yang rendah terhadap rasa frustasi.

Pantesss .. pas kuliah aku ngerasa banget susah bener nahan mood tetap bagus. Kebiasaan marah-marah saat ngebully rupanya ikut melekat. Susah payah loh buat ngelatih diri buat jadi sosok yang lembut dan toleran.

Tuh, yakin masih mau lanjut jadi pem-bully?

Penulis merasakan dan mengalami tindakan bullying sejak duduk di bangku TK hingga SMA. Pada usia 6 tahun, penulis masuk TK mulai belajar berinteraksi. Sayangnya langsung punya pengalaman buruk : dicubit teman bernama Lira. Diejek dan dicubit teman laki-laki. Pada akhirnya, perlakuan itu membentuk kepribadian paling dominan pada diri penulis : introvert.

Di lingkungan tempat tinggal penulis pun nggak lepas dari nuansa bully. Penulis pernah diancam dengan pisau lipat oleh anak nakal. Wah anak kecil udah main pisau. Seram!

Ada juga pengalaman penulis saat dipukul teman lelaki di kelas. Kebalikan sih, kalo aku pas SD pernah sekali ninju pipi (pake acara narik kerah leher segala waktu itu. Ckck Intan!) teman kelas yang cowok. Gara-gara mulutnya usil sih, aku yang emang ga sabaran langsung putar arah, narik kerah bajunya, dan buuuummm.. dia nangis, aku ketawa terus lari. Hadeh!

Di masa SD, penulis bertemu dengan saingan belajar di kelas, bernama Jodi. Penulis dan Jodi dikirim ke SD Unggulan ternyata memiliki anak-anak didik yang mentalnya tidak unggul. Ada guru yang pilih kasih, suka memukul dengan penggaris kayu pula. Tragedi diusili teman sekelas dengan penggaris kayu., sialnya anak itu adalah anak kepala sekolah. Ada juga teman sekelas penulis yang menggunakan bullying tipe verbal, bersilat sebebas mungkin dengan kata-kata hinaannya.

Duh!

Di SMP kembali diintimidasi guru Bahasa Indonesia yang hanya akan sumringah pada murid laki-laki. Di-php-in ikut lomba pidato, namun yang dipilih malah si Jodi. Penulis akhirnya ikut lomba cerdas cermat Bahasa Inggris, lagi-lagi si guru usil mematahkan semangat. Yaelaah bu.. kurang piknik nih kayaknya si ibu.  

Dan sederet pengalaman jadi korban bullying lainnya yang bikin ngelus dada sekaligus gregetan.

Duh. Duh. Duh!

Untung penulis sabar, kalo aku di posisi itu, entah udah berapa kali melayangkan tinju. Gubrak.

Aku menemukan beberapa istilah-istilah yang baru ku ketahui di buku ini:

1. Bystander : orang-orang yang berada di sekeliling terjadinya tindakan bullying. (hlm. 10)

2. Withdrawal : menarik diri dari lingkungan. (hlm. 20)

3. Coping stress (hlm. 82)

4. Sado-masokisme : salah satu gangguan psikologis yang ditandai dengan ciri khas senang melukai/ menyakiti dengan cara sadis (sadisme) dan senang dilukai/disakiti (masokisme) guna memperoleh kepuasan. Biasanya dikaitkan dengan gangguan seksual. (hlm. 163)


Ada juga pojok tips dari penulis yang dihadirkan penulis tiap akhir bab:

1. Jangan menilai sifat dan karakter seseorang terhadap kesan pertama bertemu. Biasanya orang akan menawarkan senyum semanis madu pada awal jumpa, tapi bisa saja berubah jadi perilaku pahit bak empedu. Bukan mengajak berburuk sangka, melainkan semuanya memang membutuhkan kehati-hatian dan waktu yang cukup lama untuk bisa menilai secara fair, baik atau burukkah orang di hadapan kita.

2. Pola pengasuhan orangtua terhadap anak sangat berpengaruh terhadap. Ke-unkonsistenan yang dilakukan orangtua juga sebaiknya dikurangi. Marah yang hanya beberapa menit, lalu berganti dengan bujukan bahkan pujian. Anak jadi sulit membedakan mana yang benar-benar salah, mana yang benar-benar dilarang.

Lalu, juga ditekankan untuk menegur perbuatan anak, bukan menyalahkan diri anak secara keseluruhan.

3. Ketika dibully, bukan hanya asal melawan, tapi sabar dan menahan diri juga diperlukan.

4. Tidak dibenarkan jika kita berkutat dalam lingkaran coping stress. 

Fokus pada impian, lupakan sejenak para pem-bully. Kita masuk sekolah bukan untuk menghindari anak-anak agresif yang sarkas. Bukan pula untuk mengejar kelompok populer agar lingkungan mau menerima kita dalam pergaulan yang sama. Putar baliklah, lihat tujuan awal.

Just keep being you kalo kata Isyana Sarasvati mah :p

5. Guru harus mampu menyanyangi anak didik. Memberi hukuman yang mendidik. Bukan asal cubit, bukan asal memarahi.

6. Guru harus mampu menjadi teladan bagi muridnya, baik itu dalam tutur kata maupun penampilan.


Ada juga beberapa kalimat favorit dalam buku ini, yakni :

1. Mempertahankan prestasi sebagai jawara kelas jauh lebih sulit daripada merebutnya dari temanmu. (hlm. 67)

2. Jika kau ingin “dianggap” dan diterima oleh teman sekelas, maka kau harus menunjukkan kehabatanmu dengan menjadi pemimpin atau juara kelas. Tapi, jika kau kalah, maka mereka semua akan menghilang darimu. (hlm. 74)

3. Labil secara emosi bukan berarti harus mengorbankan lingkungan sosial, termasuk teman yang pernah dekat denganmu. (hlm. 136)

4. Seseorang yang berambisi tinggi dan memungut teman untuk kelangsungan prestasinya, dia hanyalah teman maya yang hanya akan mengingatmu saat sedang baik-baik saja tapi meninggalkanmu di kala susah. (hlm. 149)

5. Teman sejati adalah mereka yang membenarkanmu jika engkau memang benar pun jika engkau berbuat salah, bukan yang selalu menganggapmu benar walaupun engkau berbuat salah. (hlm. 150)

Overall, buku ini bermanfaat sekali untuk menyadarkan si pem-bully, dan menguatkan yang ter-bully. Inspiratif.

5 komentar:

  1. Apapun alasannya bullying harus dihentikan, sangat tidal bermanfaat dan berdampak buruk bagi korban juga pelaku. Stop bullying! Semoga tidak ada lagi korban seperti penulis.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus