Review Somewhere Only We Know – Alexander Thian



Keterangan Buku :

Judul : Somewhere Only We Know
Penulis : Alexander Thian
Editor : Mia M. Supardi & Tesera Rafiantika
Penyelaras Aksara : Tesera Rafiantika & Idha Umamah
Penata Letak : Putra Julianto
Penyelaras Tata Letak : Gita Ramayudha
Desainer Sampul : Agung Nugroho
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, 2015
ISBN : 979-780-830-0
Tebal : x + 338 hlm
Harga : Rp 52.500 (di @BukaBuku)


Gue benci adik gue. Anaknya menyebalkan. Rasanya kepengin banget cekik sampai lidahnya melet. Ya, gimana nggak? Dia itu manusia yang keras kepala dan cengengnya melebihi gue. (hlm 1)

Ririn Agni Sekar dan Kenzo Arya Segara. Dua kakak beradik yang jarak usianya terpaut 3 tahun. Mereka banyak berbeda. Terutama menyoal pandangan terhadap cinta. Ririn skeptis sedangkan Kenzo terobsesi pada cinta sejati bak di film Up!. 

Selain itu, perbedaan mereka berdua dari segi fisik sangat kentara. Kenzo lebih tinggi 12 cm daripada Ririn. Kenzo jangkung, Ririn pendek. Wajah dan kulit Kenzo bak orang Jepang tulen, sedangkan Ririn harus puas dikarunia wajah Jawa medok. 

Ririn.

Bukan tanpa sebab Ririn menjadi begitu skeptis, bahkan bertahan pada status jomblo lebih dari 4 tahun lamanya. Mengkhawatirkan. Terlebih usianya sudah mendekati angka tiga puluh. Dia pernah disakiti mantan. Diselingkuhi. DUA KALI.

Awalnya Ririn susah move on, masih kerap stalking berita teranyar mengenai mantan. Namun, si adik bawel namun perhatian, Kenzo, mampu membuka matanya. Enough is enough, begitu tamparan Kenzo. Yang membuat Ririn mampu mengecap rasa lain selain pahit pada secangkir kopi paginya.

Pada suatu akhir tahun, Ririn memutuskan berlibur ke Nusa Lembongan, Bali. Tujuan terselubungnya adalah untuk menemui blogger kesayangan, Silver Shadow. Blogger yang menghiburnya dalam kurun waktu tiga tahun lebih lewat dongeng-dongeng modern yang ia ramu dengan lezat pada setiap postingan blognya. Siapa sangka, takdir malah mempertemukan mereka dan cupid sukses menembakkan panah asmara. Meski lewat insiden memalukan di kereta. Eng.. mereka kenalan gara-gara insiden yang nggak banget! *sensor* :p

Haruskah Ririn menyerahkan hatinya bulat-bulat pada lelaki yang ternyata punya nama asli Arik, itu? Soalnya Arik terlalu too good too be real sih.

He. Is. Just. Perfect. Eyes of Ryan Gosling. Voice of Benedict Cumberbatch. Body of Siwon. Brain of Neil Gaiman. Nah loh, belum lagi sikapnya pun sungguh Rama sekali. Sesuai namanya. Rama Antariksa. Udahlah ga pernah marah-marah, perhatian, ngalahan, plus tau semua yang Ririn suka.

Sekali lagi, beneran ada yang terlalu sempurna kayak gitu? Yakin nggak ada kebusukan yang lagi disimpen, untuk kemudian dipertontonkan di saat yang udah direncanakan?

Kenzo.

Dibalik semua tingkah lakunya yang menyebalkan, ternyata bagi Kenzo, Ririn adalah sumber kebahagiaan. Siapa sangka, lelaki tampan dan mapan seperti Kenzo ternyata adalah seorang .. gay.

Kisah cintanya mengenaskan. Patah hati di Indonesia, lantas memutuskan bekerja di kedutaan Indonesia di Hanoi, Viet Nam. Nyatanya hatinya terkoyak lagi di Viet Nam, oleh mantan pacar yang belum pernah ia temui rupanya, yang belum pernah ia sentuh fisiknya. Lelaki itu bernama Hava. Kekasih hati yang hanya ia jumpai via chatting MirC, email dan mendengarkan suara seksinya di telpon.

Kenzo telah bersabar sembilan bulan untuk menjalani hubungan maya macam begitu. Saat ia merasa tibalah waktunya untuk bisa pacaran secara normal, Hava malah mematahkan hatinya hingga sepatah-patahnya.Patah hati yang mendera membuat Kenzo kembali ke Indonesia.

Novel ini asli bikin kaget. Aku yang udah berkhayal sama gantengnya Kenzo, mendadak mundur teratur pas tau doi gay. Lah tapi, si Ririn aja nggak mempermasalahkan adiknya gay, masa aku yang sekedar pembaca aja blingsatan? Aku emang sama sekali nggak setuju dan nggak mendukung menyoal gay, tapi buat nutup novel ini saat belum selesai, aku nggak bisa. Sampai lembar akhir pun, aku masih berharap ada keajaiban untuk lelaki sesempurna Kenzo. Masa iya nggak ada satu dua tiga cewek cantik yang bisa nuntun dia kembali ke jalan yang benar? Duh Kenzo!

Agak kecewa juga karena penulis ga ngasih tau, apa penyebab Kenzo bertransformasi jadi gay. Kayaknya mustahil aja, dia yang diceritain ga pernah punya masalah, tau-tau udah betah lirik-lirik cowok cakep. :(

Di sisi lain, aku sempat bete saat kehadiran Arik yang terlalu sempurna. Tampan, mapan, baik, ga gay, ga brengsek, pinter. Ga ada satu pun cela di diri blogger dongeng ini. Awalnya sempat nuduh penulis ga adil. Alangkah sempurnanya tokoh satu ini. Pas sampai di ujung cerita, baru deh seolah ditampar dengan pesan moral yang buat aku ngena banget.

Emang kenapa kalo ada yang sempurna kayak gitu?

Selalu ngarepin ada cela pada diri seseorang?

Emangnya ga boleh dapetin bahagia yang beruntun?

Harus selalu curigaan kalo ketemu yang baik-baik, yang happy-happy aja?

Seriously, aku baru nyadar, kalo selama ini pun, paradigma seperti itu udah melekat di mental aku. Dan totally, itu SALAH!

Salut buat penulis yang mampu membelah diri dengan baik. Pas saat harus menjadi Ririn. Klop saat harus beralih jadi Kenzo. Pasti nggak gampang, karena karakternya bertolak belakang banget.

Novel ini sungguh quotable. Aku menemukan banyak kalimat-kalimat favorit :

1. Addicted to pain is not an escape from reality. (Kenzo. Hlm 6)

2. Tembak langsung adalah metode terbaik dalam hidup. (Ririn. Hlm 12)

3. Gue cuma mau elo jadi diri elo sendiri. Bukan jadi manusia yang orang-orang harapkan dari elo. Karena kalau elo nggak bisa jadi diri elo sendiri, lalu buat apa elo hidup? (Ririn. Hlm 13)

4. You are who you are. And i love you for who you are. (Ririn. Hlm 14)

5. Manusia kerap memakai topeng tawa untuk menyembunyikan duka mereka. (Kenzo. Hlm 18)

6. Manusia perlu ditampar dengan keras supaya dia menyadari bahwa terus mengeluh tak ada gunanya. (Kenzo. Hlm 19)

7. Time doesn’t heal the pain. You just get used to it. (Kenzo. Hlm 39)

8. If you’re good looking, you must be dumb. If you’re not good looking, you must be smart, because God is being fair to human kind. (Ririn. Hlm 60)

9. Selalu ada kali pertama untuk segalanya. Dan sekali dalam hidup kamu, kamu harus mencoba sesuatu yang baru. (Arik. Hlm 70)

10. People fear what they don’t know. But once they get to know things, it feel easier day by day. (Kenzo. Hlm 74)

11. To describe happiness is not that hard after all. You just need to remember the details that made you smile. And one more thing i learn is, happiness doesn’t leave scars. (Ririn. Hlm 106)

12. The thing about a damn huge ego it will hurt your way more often then it saves your day. (Ririn. Hlm 122)

13. Terkadang, kita mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya kita ucapkan dan menghancurkan suasana nyaman yang sudah terbangun sekian lama. (Kenzo. Hlm 139)

14. Love isn’t blind. It sees, but it doesn’t mind. (Ririn. Hlm 164)

15. Menjadi orang dewasa artinya mampu mengambil keputusan dan menghadapi resikonya. (Arik. Hlm 266)

16. Kamu nggak bisa terus menerus bersembunyi di balik topeng rasa takut. Mau tak mau cepat atau lambat, kamu harus menghadapi ketakutan kamu. (Papa Arik. Hlm 287)

17. When something is too good to be true, there must something wrong in it. (Kenzo. Hlm 325)

18. When something is too good to be true, be grateful and accept the happiness you deserve. (Kenzo. Hlm 325)

19. Semua orang berhak berbahagia tanpa mempertanyakan apakah penderitaan akan segera menghampiri. (Kenzo. Hlm 327)

Juga terdapat beberapa kalimat-kalimat sindiran :

1. Dan kakak mana yang nggak sayang sama adiknya? (hlm 8)

2. Elo memang tipikal orang Indonesia. Hobinya minta oleh-oleh. (hlm 9)

3. Berani ngeledek, berani terima balesan, dong. (hlm 11)

4. Dia itu asshole, nyebelin ... tapi ya kalau udah sayang mau gimana? (hlm 14)

5. Memberikan nasihat itu mudah, melaksanakannya teramat susah. (hlm 19)

6. Terkadang gue berharap bisa melupakannya semudah anggota dewan yang menebar janji, tetapi lalai menepati. (hlm 24)

7. Dimana-mana, yang salah selalu laki-laki, kan? (hlm. 35)

8. Manusia memang kerap menggunakan emoticon untuk mengakhiri percakapan. (hlm 47)

9.Seorang laki-laki dinilai oleh kekonsistenan ucapannya. (hlm 332)

4 dari 5 bintang untuk buku ke-dua kak Alexander Thian ini :D  

6 komentar:

  1. Wah ..., sayang banget kalau Kenzo gay. Padahal pas membaca diawal-awal gitu berasa namanya yang keren, perawakan yang katanya seperti orang jepang. AIh ... dan di tengah-tengah diberitahukan bahwa dia gay. Kecewa dan nyeseg. Ditambah sama cowok bernama Arik yang terlalu sempurna, jadi berpikir negatif juga. Eh ...nggak boleh deng, makanya jadi penasaran ada apa sih yang sebenarnya terjadi? Apakah ada makhluk sempurna? Dan aapakh tidak harapan Kenzo sembuh. Ngerep

    BalasHapus
  2. pas baca nama tokohnya Kenzo langsung kebayang member band fav ku dulu yang namanya Kenzo juga. cakep banget lho dia. searching aja: Kenzo Ayabie kalo gak percaya *lho kok malah ngomongin ini *plaaakk xDD

    aku gak masalah sih sama cerita2 berbau LBGT. malah penasaran. tapi harusnya emang ada asal muasalnya gitu ya kenapa Kenzo jadi gay. apa emang gak doyan cewek, atau ada trauma, keturunan, etc. terus keluarganya gimana. apa dia coming out atau gak *lho kok gak nyambung *plaaakk lagi xDD

    btw penasaran banget ih pas baca bagian pesan moralnya itu. pengin tau senampol apa. jadi pengin baca bukunya juga >_<

    oh iya, aku suka banget quote yang ini: "If you’re good looking, you must be dumb. If you’re not good looking, you must be smart, because God is being fair to human kind. (Ririn. Hlm 60)".
    well, bener sih. tapi ada juga lho orang yang good looking, baik, pintar, pokoknya yang bagus2 lah semuanya ada di dirinya. tapi, pasti ada aja ya kekurangan pada diri seseorang. baru deh dia keliatan manusiawi. nobody's perfect, bener kan? ;)

    BalasHapus
  3. Covernya memikat banget ><
    Applause sama cover designernya.
    Sukses bikin mupeng dalam sekali tatap.
    Rasanya pengin masukin ke daftar belanjaan...

    BalasHapus
  4. Mbak, Gay itu g perlu punya latar belakang masalah, lho. Mereka gay memang karena tuntutan batin - untuk beberapa orang. Mungkin, ada juga sih yang memutuskan jadi gay karena sesuatu hal.

    Novel ini salah satu novel yang aku lirik, tapi hanya bisa menghela napas karena harganya.

    Di beberapa bagian review mbak Intan, membuat aku berpikir untuk menghapus novel ini dari wishlist. Tapi, ada beberapa bagian yang bikin aku pengin lagi. Ini novel sebenarnya bagus apa nggak, sih buat Mbak Intan? Kalau diminta ngasih rating mau dikasih rating brapa?

    Aku merasa penulis novel ini cerdas. Dia tahu aja kalau mau dikritik dibagian itu - bagian tokohnya yang maha sempurna. Aku sendiri punya paradigma sama seperti Mbak Intan. Di dunia nyata aja nggak ada yang sempurna. Selalu ada celah meskipun sedikit pada diri seseorang. Nah, di dunia fiksipun harusnya begitu. Nggak ada tokoh sempurna. Sebaik-baiknya dia, akan ada sesuatu yang menjadi kelemahannya.

    Cuma, mungkin penulisnya pengin kita - pembacanya - bisa berpikir positif tentang apapun, termasuk pada seseorang. Agar kita nggak mudah menuduh, kali, ya.

    Dan, kayaknya penulis juga paling ahli nyindir pembaca, ya?

    Duh, galau aku sama novel ini. Beli nggak ya?! :D

    BalasHapus
  5. Ngakak pas baca 'body of Siwon' :D Se-perfect itukah seorang Arik?
    Jadi penasaran wk

    Konfliknya sedikit ngebingungin, atau mungkin konflik didalam cerita
    ini memang bercabang?

    Cukup bagus penggunaan bahasa gaul indonesia dalam percakapannya. Ga
    kaku-kaku amat lah. Aku suka. Bener-bener ciri khas remaja.

    Kenzo gay ya? Menurut aku sih itu bukan masalah yang besar, asal
    dikasih sedikit arahan aja kenapa dia bisa kaya gitu.

    Prihatin sama kisah asmara Ririn yang pelik. Diselingkuhin 2 kali? Ga
    bisa bayangin sakitnya kaya apa, tapi apa mau dikata? Itu sudah
    rencana authornya :v hihihi

    BalasHapus
  6. He is just perfect! Boleh nggak, mulai suara, mata, sampe body diimajinasikan spt abang Jason Statham aja? Hahahaha ini lah maunya saya yak hihihi.
    Salam kenal ya mbak Intan :)

    BalasHapus