Review Buku Ini Tidak Dijual – Henny Alifah




 

Keterangan Buku :
Judul : Buku Ini Tidak Dijual
Penulis : Henny Alifah
Penyunting bahasa dan penyelaras akhir : Mastris Radyamas
Penata letak : Bagus Muhamad Ma’ruf
Desain sampul : Naafi Nur Rohma & Andhi Rasydan
Penerbit : Indiva
Tahun terbit : Maret 2015 (cetakan pertama)
ISBN : 978 – 602 – 1614 – 48 – 8
Tebal : 192 hlm.


Blurb : 

“Gadis itu benar, Bos! Isinya cuma buku!”

“Karung yang ini juga cuma buku!”

Pria utama kecewa dengan kata-kata anak buahnya. Dia berharap lebih dari karung-karung tersebut. Sudah beberapa hari ini dia tidak mendapat mangsa empuk untuk menyambung hidupnya. Apakah ini saatnya dia berganti profesi?

“Ya, sudah. Tak apa. Kita jual buku-buku itu!”

“Buku ini tidak dijual!” teriak Kingkin.

Tepat saat Kingkin meneriakkan kata-kata itu, sebuah cahaya muncul dari arah belakangnya. Pandangan mereka semua jadi silau.

Lima karung buku itu menjadi buruan melelahkan bagi Kingkin dan Gading. Buku-buku yang sejatinya bukan milik mereka berdua, tapi kenapa mereka mau mati-matian mengejarnya? Ya, mati-matian. Karena demi lima karung buku itu, mereka nyaris mati! Ada apa sesungguhnya pada buku-buku itu sampai Padi – ayah Gading – berkeras hati tak mau kehilangan?


Sekilas tentang Buku Ini Tidak Dijual

Tidak pernah ada buku yang menjadi bekas. Dia akan selamanya menjadi buku yang dapat dibaca oleh siapa pun. – hlm 21

Gading merasa bertanggungjawab untuk mengobati kesedihan ayahnya, Padi, karena ia ikut memuluskan niat Mbah Kung untuk menjual 5 karung buku milik ayahnya. Menurut Mbah Kung, buku-buku yang dikoleksi Padi sejak SD itu lebih baik dijual. Toh tak akan pernah dibaca lagi, sudah menjadi usang. Tak lebih dari sekedar barang bekas.

Sebenarnya Gading sependapat dengan Mbah Kung, tapi demi melihat ayahnya menangis, Gading jadi tak tega. Ayahnya tak mudah menangis. Seumur hidupnya ia hanya 2 kali melihat ayahnya menangis. Pertama, saat ibunya meninggal. Dan kedua yaa saat mengetahui bahwa buku-buku koleksinya dijual Mbah Kung ini.

Berdua dengan sepupunya, Kingkin, Gading berusaha mengambil kembali buku-buku ayahnya. Sayang, mengambil kembali apa yang telah dilepas tak pernah mudah. Mereka menyambangi rumah pak Mersudi, pengusaha barang bekas yang membeli buku-buku ayah Gading. Nyatanya, ke-5 karung buku itu sudah dibawa ke sekolah yang  membutuhkan koleksi perpustakaan.

Namun Gading dan Kingkin tak ingin lekas menyerah, mereka mengejar keberadaan buku-buku itu dengan gigih. Hingga ke kota kabupaten, bahkan hingga menantang maut.

Sebenarnya apa yang tersimpan di buku-buku itu?

Mengapa ayah Gading bersikeras mengatakan bahwa buku-buku itu tidak dijual?


--


Buku Ini Tidak Dijual ..

Berdebat itu memalingkan kalian dari masalah pokok, membuat emosi para pelakunya, dan kalian akan saling membenci. – hlm 41

Menurutku, ide cerita buku ini luar biasa unik. Bagaimana ‘hanya sekedar’ berawal dari 5 karung buku bekas, ternyata bisa memberikan pelajaran hidup yang luar biasa banyak. Dan yang pasti begitu persuasif agar semakin banyak orang yang mencintai buku serta meningkatkan aktivitas baca.

Pendidikan tanpa membaca ibarat ruh tanpa raga. – hlm. 73

Buku memang benda mati. Tetapi, dia dapat menghidupkan jiwa yang kering. – hlm 149

Sepanjang membaca, aku dibuat penasaran, sebenarnya apa coba isi buku-buku milik ayah Gading ini. Sampai sebegitu ngotot dan begitu sedih saat karung-karung bukunya dijual. Bikin gemes. Eh tapi sikap Mbah Kung juga bikin gemes deng, ya masa mau jual-jual ga pake izin terlebih dulu ya. Apalagi itu koleksi kesayangan anaknya.

Tokoh favoritku?

Hmm tentu saja Gading dan Kingkin. Kegigihan mereka berdua patut diacungi jempol. Perubahan karakter yang semakin membaik seiring cerita pun begitu terasa. Meski memang dalam beberapa bagian cerita, kedodolan mereka berdua masih terlihat. Tapi malah itu yang membuat cerita semakin segar.

Buku Ini Tidak Dijual mengambil sebagian besar setting cerita di daerah pelosok Jawa Timur. Meski diawal cerita dibuka dengan hiruk pikuk suasana Jakarta. Suasana Jawanya kental sekali. Baik itu dari segi panggilan, suasana lingkungan dan penduduknya, juga selipan percakapan maupun istilah dalam bahasa Jawa. Tenaaang, ada catatan kakinya kok. Ndak bakal roaming :p

Nasihat-nasihat baik bertebaran, lewat penggalan-penggalan cerita yang sederhana. Seperti keharusan untuk diam saat azan, menyegerakan waktu sholat, ketidakbolehan menghakimi orang lain hanya dari penampilan luarnya, peringatan untuk tidak menggunjing dan masih banyak lagi.

Perasaanku?

Tertohok sih iya, tapi merasa digurui sama sekali tidak. Nyatanya memang kita sering abai dengan hal-hal yang ‘seolah’ kecil, tapi dampaknya besar. Dan yang pasti cara penulis meracik nasihat-nasihat di buku ini begitu rapi, terselip samar tapi begitu mengena di hati.

Kekuatan itu bekerja ketika dia berusaha sekuat tenaga. Berkali-kali dia hampir kehilangan jejak, tetapi karena dia tidak berhenti berusaha dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk itu maka pintu-pintu kemudahan terbuka untuknya. – hlm 136

4 dari 5 bintang untuk pencarian yang menghidupkan jiwa :)

3 komentar

  1. Saya pernah ke perpustakaan di kota saya, banyak buku yang bagus tapi sayang kalau minjem dibatas tidak boleh lebih dari 3 padahal kalau perpustakaan bawaannya pengen baca mulu.

    BalasHapus
  2. Baguskah, intan? jadi mupeng :D

    BalasHapus
  3. Ahh sayang sekali bukunya tidak di jual :D :D

    BalasHapus